AI Mulai Masuk Sawah, PNM Bantu Petani Magetan Deteksi Penyakit Padi Lebih Dini

PNM mulai membawa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ke tengah petani melalui inovasi Smart Agriculture untuk membantu mendeteksi penyakit padi sejak dini.
MADIUN, SINYALPONOROGO – Persoalan penyakit tanaman padi kini tidak hanya dihadapi dengan cara konvensional. Politeknik Negeri Madiun (PNM) mulai membawa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ke tengah petani melalui inovasi Smart Agriculture untuk membantu mendeteksi penyakit padi sejak dini.
Inovasi tersebut diterapkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bersama Kelompok Tani Ngudi Tani II, Desa Lemahbang, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Program ini mendapat pendanaan BIMA Tahun 2026.
Ketua tim PkM Galuh Kusuma Wardani, bersama anggota Nisa’ul Hafidhoh dan Rahmania Kumalasari, mengatakan program tersebut lahir dari kebutuhan petani untuk mendapatkan informasi awal mengenai kondisi tanaman secara lebih cepat dan praktis.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan berupa website Smart Agriculture berbasis AI dengan dukungan Computer Vision dan model Convolutional Neural Network (CNN).
Cara penggunaannya cukup sederhana. Petani dapat mengambil foto daun padi menggunakan perangkat yang terhubung internet, kemudian mengunggahnya ke dalam sistem. Selanjutnya, AI menganalisis citra daun untuk memberikan informasi awal terkait kondisi atau indikasi penyakit tanaman, termasuk rekomendasi penanganan.
Teknologi tersebut diharapkan menjadi “mata digital” bagi petani, terutama ketika gejala penyakit belum mudah dikenali secara kasatmata.
Bukan Sekadar Teknologi
PNM menyadari bahwa menghadirkan teknologi tanpa meningkatkan kemampuan penggunanya tidak akan menghasilkan perubahan yang maksimal. Karena itu, program PkM juga dilengkapi pelatihan bagi para petani.
Petani diberikan pemahaman mengenai pengenalan penyakit tanaman, teknik pengambilan gambar daun yang tepat, penggunaan website, hingga cara membaca informasi yang dihasilkan sistem.
Para petani juga memperoleh modul penggunaan teknologi sebagai panduan agar inovasi tersebut dapat diterapkan dalam aktivitas pertanian sehari-hari.
Dengan pendekatan ini, transformasi digital tidak berhenti di ruang laboratorium atau kampus. Teknologi dibawa langsung ke lahan pertanian dan diperkenalkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Deteksi Cepat, Langkah Lebih Tepat
Penyakit tanaman dan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menjadi salah satu tantangan dalam budidaya padi. Keterlambatan mengenali gejala dapat membuat penanganan menjadi lebih sulit dan berpotensi memengaruhi produktivitas.
Karena itu, kemampuan melakukan deteksi awal menjadi penting. AI dalam program ini ditempatkan sebagai alat bantu untuk memberikan informasi awal kepada petani, bukan menggantikan pengetahuan dan keputusan petani maupun tenaga ahli pertanian.
Program tersebut memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula Tahun Pendanaan 2026.
Bagi PNM, kolaborasi dengan kelompok tani menjadi bagian dari upaya mempertemukan kampus, teknologi, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dari Desa Lemahbang, transformasi pertanian itu dimulai dari hal sederhana: sebuah foto daun padi. Dari sana, teknologi AI bekerja membaca gejala, sementara petani tetap menjadi pengambil keputusan utama.(Red/Humas).
