Sorotan Limbah SPPG Cahaya Ngrayun Memanas, Kepala SPPG Buka Suara: “Tidak Ada Konfirmasi, IPAL Sudah Normal”
![]() |
| SPPG Cahaya Ngrayun Ponorogo |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Sorotan terhadap tata kelola limbah dan sanitasi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cahaya Ngrayun, Ponorogo, memasuki babak baru.
Sebelumnya, Forum Advokasi dan Aspirasi Masyarakat DPC Ponorogo (FAAM) menyoroti dugaan persoalan pengelolaan limbah padat, higiene, sanitasi hingga instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di sekitar SPPG Cahaya Ngrayun.
FAAM menyebut adanya temuan berupa sisa buah, sayuran, sampah dan material limbah lain yang diduga dibuang di area terbuka sekitar SPPG. Kondisi tersebut disebut menimbulkan bau tidak sedap, lingkungan kotor serta sampah yang berserakan.
![]() |
| Pengelolaan IPAL SPPG Cahaya Ngrayun Ponorogo sesuai standar BGN |
Sorotan juga diarahkan pada dokumentasi genangan maupun aliran air yang diduga berasal dari aktivitas SPPG dan mengarah ke lahan pertanian masyarakat.
Namun, pihak SPPG Cahaya Ngrayun memberikan penjelasan berbeda.
Kepala SPPG Cahaya Ngrayun, Makruf Setiawan, membantah jika kondisi tersebut menggambarkan keadaan pengelolaan limbah SPPG secara keseluruhan. Ia mengakui memang pernah terjadi persoalan pada jaringan IPAL, tetapi menurutnya masalah tersebut sudah ditangani.
“Memang kemarin ada kendala di IPAL, yaitu tersumbat. Tapi sudah kami sampaikan kepada mitra dan langsung ditindaklanjuti. Untuk saat ini IPAL sudah kembali normal dan lancar,” ujar Makruf, Selasa, 15/9/2026.
Menurutnya, pembenahan juga dilakukan pada sistem pembuangan. Saluran pipa telah diarahkan hingga ke lokasi pembuangan yang telah ditentukan.
Makruf tak menampik bahwa genangan air yang sempat terdokumentasi memang pernah terjadi. Namun, ia menegaskan genangan tersebut bukan karena SPPG sengaja membuang air limbah ke lahan pertanian masyarakat.
“Alirannya meluber ke lahannya karena tersumbat. Kebetulan ketika media datang ke sini memang ada genangan. Tapi sekarang sudah kembali normal,” jelasnya.
“Datang Saat Sabtu, SPPG Tidak Operasional”
Yang juga disayangkan pihak SPPG adalah proses pemberitaan yang dinilai tidak diawali dengan konfirmasi kepada pengelola.
Makruf mengatakan pihak yang datang ke lokasi pada Sabtu tidak melakukan konfirmasi langsung kepada dirinya maupun pengelola SPPG sebelum temuan tersebut diberitakan.
“Kemarin datang hari Sabtu. Kami memang tidak ada operasional hari Sabtu. Kemudian juga tidak ada konfirmasi sebelum melakukan kunjungan ke sini,” katanya.
Ia mengaku baru mengetahui adanya pemberitaan setelah pihak yang melakukan temuan menghubungi pihak SPPG maupun mitra dengan membawa sejumlah dokumentasi.
“Jadi langsung menghubungi kami, memberikan foto dan sebagainya. Sebelumnya tidak ada konfirmasi sama sekali,” imbuhnya.
Bagi Makruf, persoalan ini seharusnya dapat diklarifikasi terlebih dahulu agar publik memperoleh gambaran secara utuh mengenai kondisi sebenarnya di lapangan.
Beroperasi Sejak Februari, Layani 2.715 Penerima Manfaat
SPPG Cahaya Ngrayun sendiri mulai beroperasi pada 2 Februari 2026.
Makruf menyebut saat ini pihaknya melayani sekitar 2.715 penerima manfaat dari puluhan lembaga.
“Untuk PM saat ini 2.715,” ungkapnya.
Pelayanan tersebut mencakup 43 lembaga, termasuk 10 Posyandu.
Besarnya cakupan pelayanan tersebut membuat pengelolaan limbah menjadi salah satu bagian penting yang harus terus mendapat perhatian. Sebab, aktivitas penyediaan makanan dalam jumlah ribuan porsi setiap hari secara otomatis menghasilkan limbah organik maupun limbah lainnya.
Karena itu, menurut pihak SPPG, pembenahan tidak berhenti setelah muncul sorotan.
Sampah Organik dan Persoalan TPA
Dalam persoalan limbah padat, Makruf menjelaskan terdapat persoalan tersendiri karena kondisi wilayah Ngrayun belum memiliki tempat pembuangan akhir sampah yang dapat digunakan untuk menampung seluruh limbah dari aktivitas SPPG.
Selama ini, kata dia, sebagian limbah organik diserahkan kepada warga maupun relawan yang memang bersedia memanfaatkannya.
Ada yang digunakan sebagai pupuk dan ada pula yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
“Memang sebelumnya kita kesulitan melakukan pembuangan sampah karena di Ngrayun tidak ada tempat pembuangan sampah akhir,” terangnya.
Namun, kondisi tersebut kini mulai dicarikan solusi melalui koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Makruf mengatakan pihak mitra SPPG telah melakukan koordinasi dengan DLH dan bahkan telah dilakukan kerja sama untuk penanganan sampah.
“Sudah melakukan MoU dengan dinas terkait dan akan dilakukan pengambilan sampah untuk dibuang ke TPA Mrican,” ujarnya.(Nang/Red).

