Tembakau Ponorogo Makin Menjanjikan, Atika Banowati Dorong Petani Maksimalkan Peluang dan Minimalkan Risiko

Suasana sosialisasi potensi tembakau di kabupaten Ponorogo di hotel Maesa Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Potensi tembakau di Kabupaten Ponorogo terus menunjukkan tren positif. Di tengah peluang yang kian terbuka, petani didorong untuk lebih cermat membaca musim sekaligus mengantisipasi ancaman hama.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan sosialisasi potensi tembakau yang digelar Hj. Atika Banowati, SH, anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Golkar, Dapil IX (Ponorogo, Magetan, Trenggalek, Pacitan, dan Ngawi), pada 28–29 Maret 2026.
Kegiatan ini berlangsung di empat titik, yakni Desa Krebet dan Sendang di Kecamatan Jambon, Desa Bangunharjo Kecamatan Sukorejo, serta Hotel Maesa Ponorogo. Hadir sebagai narasumber M. Tunggul Swastiko, SP, MP dan Didik Darmanto, SST, M.Si dari Dinas Pertanian Ponorogo.
Atika menegaskan, tren peningkatan luas tanam dan produksi tembakau menjadi sinyal kuat bahwa komoditas ini layak diperhitungkan sebagai penopang ekonomi petani.
“Dari tahun ke tahun terus meningkat. Ini menunjukkan tembakau punya prospek yang bagus. Tinggal bagaimana petani memahami potensi sekaligus risiko yang ada,” ujarnya.
Ia menyebut, melalui sosialisasi ini pihaknya ingin membuka wawasan petani, mulai dari teknik budidaya hingga ancaman hama penyakit yang kerap menjadi kendala di lapangan.
Data Dinas Pertanian Ponorogo menunjukkan, luas tanaman tembakau mencapai 5.033 hektare yang tersebar di 21 kecamatan. Kecamatan Balong menjadi wilayah terluas dengan 902 hektare, disusul Bungkal 603 hektare dan Mlarak 420 hektare.
Tak hanya luas lahan, produksi juga mengalami lonjakan signifikan dalam lima tahun terakhir. Pada 2020 produksi tercatat 938 ton, sempat turun di 2021 menjadi 930,85 ton, lalu melonjak pada 2022 menjadi 1.409,66 ton, meningkat lagi di 2023 menjadi 2.363 ton, dan mencapai 2.975,46 ton pada 2024.
“Dengan potensi panen yang bisa mencapai Rp15 juta per kotak, ini sangat menjanjikan bagi petani,” jelas Tunggul.
Ia juga mengacu pada prediksi BMKG bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih awal, yakni April. Kondisi ini dinilai ideal untuk budidaya tembakau, sehingga petani didorong mulai bersiap sejak dini.
Saat ini, tercatat ada 6.159 petani tembakau di Ponorogo dengan dukungan 5.430 buruh tani serta 185 kelompok tani. Meski belum sepopuler padi atau jagung, tembakau dinilai mampu bersaing dari sisi keuntungan.
Selain itu, akses pasar juga mulai terbuka. Tembakau Virginia telah menjalin kemitraan dengan industri, sementara tembakau lokal tetap memiliki pasar tradisional, salah satunya di Dukuh Temon, Desa Biting, Kecamatan Badegan.
Yang tak kalah menarik, sektor ini juga mendapat dukungan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang rutin memberikan bantuan kepada petani dan buruh tani.
“Ini peluang besar. Sudah untung dari hasil panen, masih ada tambahan dari DBHCHT,” tegasnya.
Sementara itu, narasumber lainnya, Didik Darmanto, menekankan pentingnya pendekatan ramah lingkungan dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
Ia mendorong penerapan agensia hayati melalui rekayasa agroekosistem dan peningkatan biodiversitas. Menurutnya, langkah preventif jauh lebih efektif dibanding penanganan setelah serangan terjadi.
“Pengendalian alami harus diperkuat. Kunci utamanya ada pada keseimbangan ekosistem,” pungkasnya.
Dengan kombinasi potensi pasar, dukungan kebijakan, dan penguatan teknik budidaya, tembakau kini bukan lagi sekadar alternatif—melainkan pilihan rasional bagi petani Ponorogo untuk meningkatkan kesejahteraan.
Penulis : Nanang

