Ritual Pengirupan di Bawah Beringin Nyi Korek, Ikhtiar Spiritual Sambut Grebeg Suro Ponorogo
![]() |
| Muh Yhani Wijaya, Tokoh spritual lakukan ritual Pengirupan Grebeg Suro |
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Menjelang perhelatan Grebeg Suro 2026, nuansa spiritual kembali menyelimuti rangkaian persiapan acara budaya terbesar di Bumi Reog. Pada Kamis malam Jum’at (4/6/2026), tokoh spiritual lokal, Muh. Yhani Wijaya atau yang akrab disapa Mbah Yani, melaksanakan ritual pengirupan di bawah pohon beringin yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya Nyi Korek, sosok danyang atau penguasa gaib Ponorogo.
Ritual berlangsung khidmat di kawasan sekitar panggung utama Alun-Alun Ponorogo. Dalam suasana malam yang hening, Mbah Yani duduk bersila di bawah naungan pohon beringin tua. Asap dupa atau menyan mengepul perlahan, menyatu dengan doa-doa yang dilantunkan lirih.
Dengan jopa japu, ia memanjatkan harapan kepada Sang Pencipta agar pelaksanaan Grebeg Suro tahun ini berjalan lancar, aman, serta mampu menarik banyak penonton.
“Ini bagian dari ikhtiar batin. Kita memohon agar acara diberi kelancaran dan menjadi rejo, ramai, membawa berkah bagi masyarakat,” ujarnya.
Keberadaan pohon beringin tersebut bukan sekadar elemen lanskap kota. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, lokasi itu diyakini memiliki nilai spiritual tinggi karena berkaitan dengan Nyi Korek, yang dipercaya sebagai penjaga gaib wilayah Ponorogo. Ritual pengirupan di titik tersebut dipahami sebagai bentuk “permisi” sekaligus upaya menjaga harmoni antara dunia nyata dan tak kasatmata.
Di tengah modernisasi penyelenggaraan Grebeg Suro yang kini dikemas lebih megah dengan panggung spektakuler dan promosi digital, praktik spiritual seperti ini tetap bertahan sebagai bagian dari kearifan lokal. Bagi sebagian masyarakat, kesuksesan sebuah hajatan besar tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknis, tetapi juga keseimbangan antara usaha lahir dan batin.
Ditambahkan Mbah Yhani, ritual semacam ini sekaligus bagian dari pagar-pagar ghaib. Dengan semakin dekatnya puncak Grebeg Suro 2026, berbagai persiapan terus dimatangkan. Di balik gemerlap panggung dan antusiasme masyarakat, ritual pengirupan menjadi doa sunyi yang diharapkan mampu “menghidupkan” suasana sekaligus membawa kelancaran.
Harapannya sederhana namun dalam: Grebeg Suro tidak hanya sukses terselenggara, tetapi juga benar-benar hidup, berdenyut, dan dipenuhi keramaian yang membawa kebahagiaan bagi semua yang hadir.
Penulis : Nanang


