Teguh Wiyono Pasang Sinyal: Banner di Titik Strategis, Serius Dampingi Bunda Lisdyarita
Langkah itu menjadi salah satu sinyal paling nyata bahwa pengusaha yang dikenal memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan tersebut serius menatap peluang mendampingi Bunda Lisdyarita sebagai calon wakil bupati untuk melanjutkan sisa masa pemerintahan.
“Ini menyebar di perempatan-perempatan kota dan pintu masuk Ponorogo,” ujar Teguh Wiyono kepada Sinyal Ponorogo, Ahad (6/9/2026).
Bagi Teguh, pemasangan banner bukan semata soal membangun popularitas. Ia menyebutnya sebagai bagian dari upaya memperkenalkan diri kepada masyarakat Ponorogo.
Baginya, seorang calon pemimpin semestinya dikenal masyarakatnya. Setidaknya, warga mengetahui siapa orangnya, bagaimana latar belakangnya, dan apa yang ingin diperjuangkannya.
![]() |
| Banner Teguh Wiyono Calon Wakil Bupati Ponorogo siap wujudkan Ponorogo hebat |
Filosofi Jawa “witing tresno jalaran soko kulino”—rasa dekat tumbuh karena sering berinteraksi—menjadi salah satu cara pandang Teguh. Ia percaya, hubungan antara pemimpin dan masyarakat juga membutuhkan proses saling mengenal.
“Kalau masyarakat tidak mengenal dengan baik siapa pemimpinnya, tentu tidak ideal. Ini bagian dari perkenalan,” katanya.
Namun di balik wajah yang mulai menghiasi sejumlah titik Ponorogo, Teguh membawa narasi yang lebih besar: kesiapan untuk mengabdikan diri.
Jika nantinya mendapat kepercayaan dari Bunda Lisdyarita dan dukungan para wakil rakyat untuk mendampinginya, Teguh mengaku siap memberikan seluruh tenaga dan pikirannya untuk Ponorogo.
Ia bahkan menggunakan istilah yang cukup tegas: menghibahkan hidupnya untuk Ponorogo.
“Ini bukan kampanye, tapi janji dalam hati. Kalau dipercaya, saya ingin mengabdikan hidup saya untuk Ponorogo, demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Teguh sendiri bukan orang yang sepenuhnya asing dengan Ponorogo. Ia mengaku memiliki darah Ponorogo dari sang ayah. Kesibukan mengelola bisnis membuatnya tidak selalu berada di Kota Reog.
Namun ikatan keluarga membuat Ponorogo tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Keluarganya masih banyak berada di wilayah Bajang, Kecamatan Balong.
Karena itu, banner-banner tersebut seolah menjadi pesan sederhana: Teguh ingin lebih dekat dan lebih dikenal.
Dalam peta politik pengisian kursi Wakil Bupati Ponorogo, langkah semacam ini tentu menarik dicermati. Sebab, politik tidak hanya berbicara tentang siapa yang berani menyatakan diri, tetapi juga tentang bagaimana seorang figur membangun penerimaan publik.
Dan Teguh Wiyono tampaknya memilih cara sederhana untuk memulai: memperkenalkan wajahnya terlebih dahulu kepada wong Ponorogo.
Selebihnya, keputusan berada di tangan Bunda Lisdyarita dan para wakil rakyat.
Yang jelas, dari sejumlah perempatan hingga pintu masuk Ponorogo, Teguh Wiyono mulai memasang sinyal.(Nang/Red).
