BREAKING NEWS

Model Kurikulum Leadership Pesantren Anak Sholeh Baitul Qur'an Berbasis Nilai-Nilai Al-Qur’an melalui Manajemen Pesantren Perspektif KH. Abdullah Syukri Zarkasyi

Oleh :
Dr. Riza Ashari, M.Pd. (Dosen PAI, UNIDA Gontor)

Pendidikan pesantren bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang pembentukan karakter dan kaderisasi pemimpin. Di tengah tantangan krisis keteladanan dan kepemimpinan, pesantren memiliki tanggung jawab melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi. 

Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi salah satu contoh pesantren yang menempatkan kaderisasi sebagai bagian penting dari sistem pendidikannya. Dalam pemikiran K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, kepemimpinan tidak lahir secara instan, tetapi dibentuk melalui pendidikan yang sistematis, terarah, dan berkesinambungan.

Tiga Pendekatan Kaderisasi Pemimpin

K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi menekankan tiga pendekatan penting dalam pembentukan kader. Pertama, pendekatan manusiawi, yaitu memperlakukan kader sebagai manusia yang memiliki potensi, karakter, dan kemampuan berbeda. Pendidikan kepemimpinan harus membimbing, menghargai, dan mengembangkan potensi tersebut.

Kedua, pendekatan tugas dan tanggung jawab. Kader tidak cukup diberikan teori kepemimpinan, tetapi harus memperoleh pengalaman melalui penugasan, latihan mengambil keputusan, dan penyelesaian masalah.

Ketiga, pendekatan idealisme dan militansi, yaitu menanamkan kesungguhan, keteguhan prinsip, serta semangat perjuangan dalam mengemban amanah. Militansi dalam konteks pendidikan ini dipahami sebagai komitmen pengabdian, bukan sikap keras terhadap perbedaan.

Nilai Kepemimpinan dalam Kehidupan Pesantren

Kaderisasi tersebut dibangun melalui nilai keikhlasan, kejujuran, amanah, pengorbanan, ukhuwah Islamiyah, pengawalan, dan kemampuan komunikasi.

Keikhlasan ditanamkan melalui pengarahan, pelatihan, penugasan, pembiasaan, pengawalan, dan pendekatan personal. Kejujuran dan amanah dibuktikan melalui kedisiplinan serta kesungguhan menyelesaikan tugas. Pengorbanan diwujudkan melalui kesiapan mencurahkan pikiran, tenaga, harta, dan perasaan demi perjuangan serta kemaslahatan.

Sementara itu, ukhuwah Islamiyah memperkuat persaudaraan dan kerjasama. Pengawalan menegaskan bahwa pemimpin tidak hanya memerintah, tetapi juga mendampingi, mengontrol, dan mengevaluasi. Kemampuan komunikasi diperlukan agar gagasan dapat disampaikan secara runtut, logis, dan mudah dipahami. Nilai tersebut sejalan dengan QS. An-Nisa’ [4]: 58 yang menegaskan kewajiban menunaikan amanah, serta QS. Ali 'Imran [3]: 159 yang mengajarkan musyawarah dalam kepemimpinan.

Reaktualisasi dalam Kurikulum Leadership Pesantren Anak Sholeh (PAS) Baitul Qur’an

Pemikiran tersebut menjadi landasan pengembangan model kurikulum leadership di Pesantren Anak Sholeh Baitul Qur'an. Hasil penelitian mengidentifikasi lima pilar pembinaan melalui hidden curriculum: keteladanan, pengarahan dan penugasan, kedisiplinan, pengawalan, serta evaluasi berkala.

Kelima pilar tersebut diarahkan menjadi kurikulum yang mengintegrasikan pembelajaran klasikal dengan pengalaman kepemimpinan melalui organisasi santri, kepanitiaan, dan pembiasaan harian. 

Dengan demikian, pendidikan kepemimpinan pesantren bukan hanya mengajarkan cara memimpin, tetapi membentuk pribadi yang ikhlas, amanah, komunikatif, berjiwa pengorbanan, dan bertanggung jawab.

“Pemimpin sejati tidak cukup dibentuk melalui nasihat, tetapi harus ditempa dengan penugasan, dibimbing melalui pengawalan, dan dikuatkan oleh idealisme serta keikhlasan dalam pengabdian.”

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar