BREAKING NEWS

Gotong Royong Menjawab Sunyinya Anggaran, Warga Mbanu Bersatu Bangun Jalan dengan Tangan Sendiri

Semangat gotong royong warga Mbanu bersatu desa Temon Ngrayun perbaiki jalan rusak diera keterbatasan anggaran pemkab 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Ketika ruang fiskal negara menyempit dan pembangunan fisik tak lagi leluasa, warga RT 04 / RW 01 Mbanu Bersatu, Desa Temon, Kecamatan Ngrayun, memilih jalan lain: bergerak bersama, tanpa menunggu.

Sejak Minggu pagi, 11 Januari 2026, denyut gotong royong terasa di Jalan Mbanu–Slindit. Warga berdatangan membawa alat seadanya, menyiapkan material, menghamparkan dan merapikan badan jalan yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas sosial dan ekonomi mereka. Tak ada proyek bernilai miliaran, tak ada papan nama kontraktor. Yang ada hanya kesadaran kolektif bahwa jalan rusak tak bisa menunggu terlalu lama.


Ruas jalan tersebut bukan sekadar jalan lingkungan. Ia menjadi jalur alternatif antar desa—penghubung Mbanu, Slindit, hingga Nglegok—yang kerap diandalkan warga saat akses utama terganggu. Namun bertahun-tahun, kondisi jalan dan ketiadaan saluran membuatnya rawan rusak setiap musim hujan.

Ketua RT 04 / RW 01 Mbanu Bersatu, Mast HS, menyebut keterbatasan anggaran pembangunan fisik pada tahun 2026 menjadi pemantik utama lahirnya inisiatif swadaya. Alih-alih menunggu giliran program, warga sepakat untuk mengambil peran.

“Kami paham, kebijakan pusat membuat anggaran fisik terbatas. Tapi kebutuhan jalan ini mendesak. Kalau semua menunggu, aktivitas warga ikut terhambat,” kata Mast HS, Minggu (11/1/2026).


Menurutnya, gerakan swadaya ini bukan bentuk keputusasaan, apalagi pengganti peran negara. Justru sebaliknya, ia ingin menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki daya hidup dan kepedulian terhadap lingkungannya.

“Ini langkah awal dari bawah. Harapan kami tetap ada sinergi. Jalan ini bisa masuk prioritas dana desa 2026 atau 2027,” ujarnya.

Selain badan jalan, persoalan saluran air menjadi catatan penting. Hampir seluruh ruas di wilayah tersebut belum memiliki drainase memadai. Tanpa saluran, perbaikan jalan dikhawatirkan tak bertahan lama.

Mast mengungkapkan, pihak RT telah mencoba menempuh jalur aspirasi politik. Lingkungan Mbanu Bersatu tercatat bergabung dengan salah satu partai politik, namun pada 2025 usulan pembangunan belum sempat masuk ke Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD), baik melalui desa maupun pokok-pokok pikiran dewan. Dampaknya, wilayah ini kembali absen dari daftar pembangunan fisik 2026.


Upaya komunikasi juga dilakukan ke sejumlah wakil rakyat di DPRD Kabupaten Ponorogo dan DPRD Provinsi Jawa Timur. Laporan kondisi jalan hingga poster donasi telah dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Hingga kini, belum ada respons resmi yang diterima.

Meski demikian, Mast menegaskan penggalangan dana dilakukan secara sukarela, tanpa tekanan.

“Kami hanya mengajak peduli. Tidak ada paksaan. Semua murni kesadaran sosial,” tegasnya.

Langkah warga Mbanu Bersatu mendapat apresiasi dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Krajan. Anggota BPD, Suryanto Bendhol, menilai gerakan ini sebagai contoh partisipasi warga yang patut ditiru.

“Kesadaran akan pentingnya infrastruktur tumbuh dari bawah. Ini bukti bahwa gotong royong masih hidup,” ujarnya.

Perangkat desa setempat juga menyatakan dukungan, menilai swadaya warga sejalan dengan semangat pembangunan berbasis kebersamaan yang selama ini digaungkan pemerintah.

Sebagai bentuk transparansi, setiap perkembangan donasi dilaporkan secara terbuka kepada warga. Penggalangan dana pun masih dibuka, mengingat perbaikan jalan akan dilanjutkan hingga ruas Mbanu–Nglegok.

Di tengah keterbatasan anggaran dan lambannya birokrasi, warga Mbanu Bersatu memilih tidak berpolemik. Mereka membangun dengan apa yang ada—tenaga, kebersamaan, dan kepedulian. Sebuah pesan sunyi namun tegas: ketika negara belum hadir sepenuhnya, masyarakat tak lantas berhenti bergerak.(Nang/Humas).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar