Ratusan Siswa PSHT Uji Mental dan Fisik, Kapolsek Siman: Calon Pendekar Harus Cerdas dan Berakhlak

AKP Nanang Kapolsek Siman dalam upacara pembukaan kenaikan tingkat sabuk hijau ke putih di halaman Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Semangat membara tampak di halaman Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ponorogo, Ahad (12/4/2026). Ratusan siswa Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Ponorogo Komisariat Pemkab Ponorogo mengikuti tes kenaikan tingkat dari sabuk hijau ke sabuk putih.
Kegiatan yang diawali dengan upacara pembukaan itu berlangsung tertib, aman, dan penuh khidmat. Kehadiran Kapolsek Siman, AKP Nanang, memberi warna tersendiri dalam pembinaan karakter para calon pendekar.
Dalam sambutannya, AKP Nanang menekankan bahwa menjadi pendekar bukan sekadar soal kemampuan bela diri, melainkan juga kecerdasan, kecepatan bertindak, serta kepedulian sosial.
“Calon pendekar harus sat set, ringan tangan, dan selalu siap menolong sesama. Jadilah teladan di masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tertib berlalu lintas. Larangan penggunaan knalpot brong menjadi salah satu pesan yang disorot, sebagai bentuk kepedulian terhadap kenyamanan publik.
Tak hanya itu, AKP Nanang turut menanamkan nilai spiritual kepada para peserta. Ia menyebut, keberhasilan seorang muslim tidak lepas dari kedisiplinan ibadah.
“Jangan tinggalkan sholat malam, dua rakaat sebelum subuh, dan sholat dhuha. Insyaallah, jika itu dijaga, hidup akan sukses dunia akhirat,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua PSHT Komisariat Pemkab Ponorogo, Purnomo Sidi, menegaskan bahwa proses ini merupakan tahapan penting menuju tingkat berikutnya.
“Semua harus dilalui. Setelah ini masih ada pendadaran menuju calon warga PSHT. Kuncinya sabar dan jaga kesehatan,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa tes kenaikan tingkat ini digelar serentak di seluruh Ponorogo, dengan total peserta mencapai sekitar 3.100 siswa. Beberapa ranting memang lebih dulu melaksanakan karena agenda internal, namun secara umum pelaksanaan tetap terkoordinasi.
Purnomo juga mengingatkan peserta untuk bersikap jujur dan disiplin selama proses berlangsung.
“Kalau sakit, izin. Tapi tidak boleh pura-pura. Ini demi kelancaran bersama,” tegasnya.
Usai tahapan ini, para siswa dijadwalkan mengikuti longmars pada 19 April 2026. Dalam momen tersebut, sabuk putih akan diserahkan secara simbolis kepada peserta yang dinyatakan lulus.
Berdasarkan pantauan di lapangan, pelaksanaan tes dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari empat peserta yang diuji secara bergiliran oleh pelatih.
Materi yang diujikan pun cukup komprehensif, mulai dari senam dasar 1–80, jurus 1A hingga 20, rangkaian jurus dan senam toyak, pola langkah, teknik berpasangan, hingga kripen. Penilaian dilakukan langsung di tempat, menunjukkan transparansi sekaligus ketegasan dalam proses seleksi.
Lebih dari sekadar ujian fisik, kegiatan ini menjadi ruang pembentukan karakter—menyatukan disiplin, solidaritas, dan spiritualitas dalam satu tarikan napas. Di tengah derasnya arus zaman, PSHT Ponorogo kembali menegaskan: pendekar sejati lahir dari proses panjang, bukan instan.
Penulis : Nanang
