BREAKING NEWS

Relawan Mulai Terbelah? Hari Bara Ingatkan Kembali ke Niat Awal: Ikhlas Tanpa Pamrih

Hari Bara 
Relawan alap-alap Senopati sekaligus Ketua DPC Grib Jaya Ponorogo 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Dinamika di tubuh relawan pemenangan pasangan Giri–Lisdyarita (Rilis) kembali mencuat. Isu soal loyalitas hingga tudingan “penyusupan” dari barisan lawan mulai beredar di kalangan internal relawan. Situasi ini memantik keprihatinan dari Hari Bara, relawan Alap-Alap Senopati sekaligus Ketua DPC Grib Jaya Ponorogo.

Hari Bara mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa pihak yang dimaksud dalam isu tersebut. Namun, ia tidak menampik bahwa kegelisahan mulai terasa di kalangan relawan, terutama terkait loyalitas terhadap Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita.

“Kalau melihat isu yang berkembang, memang ada segelintir relawan yang mulai mempertanyakan loyalitas Bunda Lisdyarita,” ujarnya.

Di tengah riuhnya spekulasi, Hari Bara justru memilih menarik garis tegas: relawan sejatinya adalah mereka yang berjuang tanpa pamrih. Ia menyayangkan jika ada pihak yang seolah-olah merasa ditinggalkan, lalu mengumbar narasi yang berpotensi memecah belah.

“Saya pribadi sebagai relawan ikhlas berjuang. Ketika perjuangan berhasil, ya sudah, kita ikut senang. Tidak perlu ikut cawe-cawe dalam urusan pemerintahan,” tegasnya.

Menurutnya, benih perpecahan justru muncul ketika relawan mulai melampaui batas—terlalu dalam masuk ke ranah kekuasaan. Di titik itulah, kata dia, makna relawan menjadi kabur.

“Kalau sudah masuk ke urusan jabatan atau kepentingan pribadi, itu bukan relawan lagi. Itu kelompok yang mencari pekerjaan lewat politik,” tandasnya.

Hari Bara mengingatkan bahwa relawan harus tetap tegak lurus pada niat awal: mendukung dengan tulus, bukan menuntut imbal balik. Ia juga menegaskan bahwa selama ini Lisdyarita tidak pernah meninggalkan relawan, sebagaimana sering disampaikan dalam berbagai kesempatan.

Baginya, isu yang beredar lebih mencerminkan krisis kepercayaan sebagian kecil relawan, bukan realitas yang utuh.

“Relawan itu harus siap dengan segala konsekuensi. Soal apresiasi, ya diterima dengan ikhlas. Jangan sampai malah ingin mengatur atau mendikte. Itu sudah menyalahi makna relawan,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Hari Bara mengajak seluruh relawan untuk kembali pada “titah” awal perjuangan: menjaga keikhlasan dan menjauhkan kepentingan pribadi dari gerakan kolektif.

“Kalau perjuangan sudah berhasil, ya sudah. Tidak perlu ada embel-embel lain. Kembali luruskan niat, itu yang paling penting,” pungkasnya.

Di tengah tahun politik yang masih menyisakan residu, pernyataan ini menjadi pengingat: bahwa loyalitas relawan tak diukur dari posisi, melainkan dari ketulusan menjaga komitmen sejak awal.

Penulis : Nanang

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar