Bukan Sekadar Dapur! MBG di Ponorogo Serap Ribuan Tenaga Kerja dan Hidupkan Ekonomi Warga
![]() |
| Ny. Anie Hasyim Djoyohadikusumo potong tumpeng resmikan SPPG Patihan Kidul 2 Siman |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Ponorogo tak lagi sekadar soal penyediaan makanan. Di balik operasional puluhan dapur SPPG, program ini kini menjelma menjadi penggerak ekonomi baru—menyerap ribuan tenaga kerja sekaligus membuka pasar bagi petani dan peternak lokal.
Peresmian dapur SPPG Patihan Kidul 2 di Kecamatan Siman, Kamis (13/6/2026), menjadi bukti nyata bagaimana program nasional ini mulai berdampak langsung di tingkat desa, dari peningkatan gizi hingga pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
![]() |
| Ny. Anie Hasyim bersama H. Sugeng Hariyono dalam acara tasyakuran SPPG Patihan Kidul 2 Siman Ponorogo |
Peresmian tersebut dihadiri Anie Hasim Djoyohadikusumo, istri Hasyim Djoyohadikusumo (adik Presiden Prabowo Subianto), didampingi Deputi Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) Dr. Nyoto Suwignyo, MM, serta tim Wadah Foundation.
Turut hadir jajaran Forkopimcam, kepala desa se-Kecamatan Siman, pengurus BGN Ponorogo, NU Care sebagai mitra yayasan, hingga para petani yang tergabung dalam HKTI.
Mitra SPPG Patihan Kidul 2, H. Sugeng Hariono, menyampaikan bahwa dapur ini dibangun bukan hanya untuk mendukung program MBG, tetapi juga sebagai bagian dari misi sosial Yayasan Srikandi Berkah Abadi.
“Ini bukan sekadar dapur. Kami ingin ada manfaat berlapis—mulai dari sosial, ekonomi hingga pemberdayaan masyarakat. Harapannya, program ini bisa berjalan terus dan membawa manfaat luas,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Harian Satgas MBG Ponorogo, Hardjono, mengungkapkan bahwa saat ini sudah lebih dari 76 dapur SPPG beroperasi di Ponorogo dengan jumlah penerima manfaat mencapai lebih dari 100 ribu orang.
Penerima manfaat tersebut meliputi balita, pelajar, santri pondok pesantren, ibu hamil, hingga ibu menyusui.
“Respons dari anak-anak dan guru sangat positif. Program ini tidak hanya meningkatkan gizi, tapi juga memberi dampak ekonomi yang besar,” jelasnya.
Ia menambahkan, program MBG juga menciptakan efek berganda (multiplier effect), mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga meningkatnya permintaan hasil pertanian dan peternakan lokal.
“Ribuan tenaga kerja terserap, dan petani maupun peternak kini memiliki pasar yang jelas melalui dapur SPPG,” imbuhnya.
Di sisi lain, Deputi BGN Nyoto Suwignyo menekankan pentingnya inovasi dalam pengelolaan dapur, termasuk pemanfaatan teknologi energi terbarukan seperti tenaga surya untuk efisiensi operasional.
“Kami berharap Ponorogo bisa menjadi pionir dalam pengembangan dapur MBG berbasis pemberdayaan masyarakat dan teknologi,” katanya.
Sementara itu, Anie Hasim Djoyohadikusumo mengapresiasi fasilitas dapur SPPG Patihan Kidul 2 yang dinilai representatif dan berpotensi menjadi model percontohan.
Ia bahkan mendorong pengembangan unit produksi pangan seperti pabrik tempe modern sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat.
“Harus ada pusat produksi pangan lokal yang modern. Ini bukan hanya soal bantuan, tapi pemberdayaan agar masyarakat bisa mandiri,” tegasnya.
Menurutnya, program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing.
“Ini bukan program jangka pendek. Ini tentang masa depan bangsa. Dengan program ini, kita sedang menyiapkan generasi emas Indonesia,” tandasnya.
Dalam rangkaian kegiatan, Yayasan Srikandi Berkah Abadi bersama NU Care juga menyalurkan bantuan pembiayaan bulan Juni kepada sejumlah anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial.
Penulis : Nanang

