Dapur Rakyat vs Opini Jalanan: Menguji Narasi Pembubaran Program Makan Bergizi Gratis
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Di tengah riuhnya gelombang demonstrasi mahasiswa yang menyerukan pembubaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG), realitas berbeda justru terlihat di tingkat akar rumput. Di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), program yang dituding membebani anggaran itu justru menjadi penggerak ekonomi masyarakat kecil.
Kritik yang menguat di ruang publik banyak menyoroti besarnya anggaran negara. Namun, sejumlah pelaku di lapangan menilai narasi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil.
Salah satunya datang dari Amri Aulia Rachman, Ketua Yayasan Whana Catra Indonesia yang saat ini membawahi lima dapur SPPG di Ponorogo. Ia juga dikenal sebagai mantan Ketua Kadin Ponorogo periode 2019–2024.
Menurut Amri, MBG bukan sekadar program bantuan makan gratis, melainkan ekosistem ekonomi yang melibatkan banyak sektor dari hulu hingga hilir.
“Ada kebenaran yang sedang diplintir. Mereka bicara dari teori, tapi tidak melihat langsung bagaimana dapur-dapur ini menggerakkan ekonomi rakyat,” ujarnya kepada sinyal Ponorogo Ahad, 14 Juni 2026.
Dapur Jadi Motor Ekonomi Lokal
Amri menjelaskan, setiap dapur SPPG yang beroperasi menciptakan rantai ekonomi yang luas. Petani sayur mendapatkan kepastian pasar, peternak memperoleh permintaan yang stabil, dan pedagang pasar tradisional mengalami peningkatan transaksi.
Tak hanya itu, keberadaan dapur juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, terutama ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap.
“Ketika dapur menyala, bukan hanya makanan yang dihasilkan, tetapi juga perputaran ekonomi yang nyata,” katanya.
Kritik Perlu, Tapi Harus Berbasis Data
Meski demikian, Amri tidak menutup mata terhadap kritik yang berkembang. Ia menilai evaluasi tetap penting, terutama terkait transparansi dan efektivitas program.
Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak berhenti pada asumsi tanpa melihat kondisi lapangan.
“Kalau program ini dihentikan tanpa kajian yang matang, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat kecil yang bergantung pada program ini,” tegasnya.
Ajak Publik Melihat Langsung
Sebagai bentuk keterbukaan, Amri mendorong pengelola dapur untuk menunjukkan bukti nyata kepada publik. Mulai dari proses belanja bahan di pasar tradisional hingga standar pengolahan makanan yang diterapkan.
Ia juga mengajak pihak-pihak yang masih meragukan program MBG untuk turun langsung ke lapangan.
“Silakan datang dan lihat sendiri. Jangan hanya menilai dari jauh,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Program
Perdebatan mengenai MBG, menurut Amri, seharusnya tidak berhenti pada pro dan kontra. Lebih dari itu, diperlukan pendekatan yang objektif dan berbasis fakta.
Sebab di balik program ini, ada banyak pihak yang menggantungkan hidup—mulai dari petani, pedagang, hingga pekerja dapur.
“Ini bukan sekadar program pemerintah. Ini adalah soal keberlangsungan hidup masyarakat kecil,” pungkasnya.
Penulis : Nanang
