BREAKING NEWS

Dari Panggung Tak Terduga, Lahir Kebanggaan Baru: Reyog Garudo Djoyo Manggolo Menggetarkan FNRP 2026

Penampilan group Reyog Garudo Djoyo Manggolo SRP FNRP XXXI tahun 2026 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
— Malam itu, langit Ponorogo seakan ikut bergetar. Ribuan pasang mata memadati arena Festival Nasional Reyog Ponorogo (FNRP) 2026. Sorak penonton bersahut-sahutan, denting gamelan menggema, dan panggung megah menjadi pusat perhatian. Di antara deretan kelompok reyog berpengalaman, hadir satu nama yang semula nyaris luput dari sorotan: Reyog Garudo Djoyo Manggolo.

Tak banyak yang menyangka, kelompok yang diusung oleh siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo itu justru tampil mencuri perhatian. Dengan penuh semangat dan keberanian, mereka menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga menyentuh secara emosional.


Yang membuat penampilan ini semakin istimewa, sebagian besar dari para penari adalah pemula. Mereka baru pertama kali mengenal Reyog Ponorogo, mempelajarinya dalam waktu singkat, lalu langsung dihadapkan pada panggung bergengsi tingkat nasional. Sebuah lompatan besar yang bagi banyak kelompok lain membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapainya.

Namun, keterbatasan itu tidak menjadi penghalang. Justru dari situ lahir energi yang berbeda—energi keberanian, ketulusan, dan semangat belajar yang terasa hingga ke bangku penonton.


Setiap gerakan yang mereka tampilkan bukan sekadar koreografi. Ia adalah hasil dari proses panjang yang menuntut disiplin, kerja sama, dan kepercayaan diri. Dalam setiap langkah, terselip pesan tentang bagaimana budaya menjadi ruang pembentukan karakter.

“Kepercayaan diri itu tidak datang secara instan. Ia lahir dari proses kreatif yang panjang, strategi pembelajaran yang tepat, dan pendekatan khusus agar anak-anak mampu menyerap materi dalam waktu relatif singkat,” ujar Wisnu HP, sutradara sekaligus koreografer Reyog Garudo Djoyo Manggolo.

Wisnu menegaskan, latihan yang dijalani para siswa bukan hanya soal menghafal gerakan atau memahami pola lantai. Lebih dari itu, mereka diajak menyelami nilai-nilai yang hidup dalam Reyog: keberanian, tanggung jawab, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.


Dukungan penuh dari pihak sekolah menjadi faktor penting di balik keberhasilan tersebut. Kepala Sekolah Rakyat Ponorogo, Devit Tri Candrawati, menilai keterlibatan siswa dalam kesenian tradisional merupakan bagian dari pendidikan karakter yang tidak bisa dipisahkan dari proses belajar.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai budaya leluhurnya. Reyog bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi identitas. Kami ingin anak-anak ini tumbuh dengan kebanggaan itu,” tuturnya.

Ponorogo sendiri bukan hanya tempat lahirnya Reyog. Ia adalah ruang hidup di mana budaya menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Pengakuan dunia melalui UNESCO terhadap Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda memperkuat posisi kesenian ini sebagai simbol identitas yang melampaui batas geografis.

Bagi Reyog Garudo Djoyo Manggolo, panggung FNRP 2026 bukanlah garis akhir. Justru di sinilah perjalanan itu dimulai. Sebuah langkah awal untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda.

Apa yang mereka tampilkan malam itu adalah lebih dari sekadar pertunjukan. Ia adalah pernyataan bahwa kesempatan, ketika bertemu dengan kemauan belajar, mampu melahirkan keajaiban.

Pada akhirnya, menjaga Reyog bukan hanya soal melestarikan kesenian. Ia adalah upaya menjaga ingatan kolektif, merawat identitas, dan memastikan jati diri bangsa tetap hidup di tengah arus perubahan zaman.

Dan dari panggung yang semula tak diperhitungkan itu, sebuah kebanggaan baru telah lahir.(Wisnu HP/Red).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar