Dua Tahun Berdiri, Panggung Ekraf di Jalan Pramuka Ponorogo Belum Punya Toilet

Megah, panggung Ekraf yang berada di jalan Pramuka Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Panggung ekonomi kreatif (ekraf) yang berdiri di Jalan Pramuka, tepat di depan GOR badminton Ponorogo, menjadi salah satu ruang publik baru yang cukup aktif menampung kegiatan seni, budaya, hingga geliat UMKM. Namun di balik kemegahan fasilitas yang dibangun sejak 2024 melalui anggaran pusat tersebut, terdapat persoalan mendasar yang hingga kini belum terselesaikan: ketiadaan toilet.
Padahal, dalam setiap gelaran, panggung ini kerap dipadati pengunjung. Tidak hanya penonton pertunjukan seni, tetapi juga pelaku UMKM yang membuka lapak di sekitar area. Kondisi itu membuat kebutuhan fasilitas dasar seperti toilet menjadi sangat krusial.
Sayangnya, hingga memasuki tahun kedua pemanfaatan, fasilitas tersebut belum tersedia. Situasi ini tak jarang membuat pengunjung maupun pelaku seni harus mencari alternatif tempat lain di sekitar lokasi, yang tentu tidak selalu mudah diakses.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo mengakui bahwa sarana penunjang di kawasan panggung ekraf memang belum sepenuhnya terpenuhi. Kepala bidang kebudayaan Disbudparpora, Yayuk, menyebut pembangunan fasilitas tambahan, termasuk toilet, masih dalam tahap pengusulan.
“Belum… masih proses usulan,” ujar Yayuk saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026).
Jawaban tersebut justru memunculkan tanda tanya publik. Pasalnya, panggung ekraf sudah aktif digunakan selama kurang lebih dua tahun. Artinya, kebutuhan fasilitas dasar semestinya sudah menjadi bagian dari perencanaan awal, bukan sekadar tambahan di tahap berikutnya.
Yogie, warga Kecamatan Siman, menilai pembangunan panggung tersebut terkesan tidak tuntas. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih jeli dalam merancang fasilitas publik, terlebih yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
“Bangunannya megah, anggarannya pasti besar. Tapi kok hal mendasar seperti toilet tidak dipikirkan. Padahal itu kebutuhan wajib, apalagi kalau ada acara besar,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa keberadaan panggung ekraf telah menjadi “jujugan” atau tujuan masyarakat ketika ada kegiatan. Tanpa fasilitas pendukung yang memadai, kenyamanan pengunjung menjadi terganggu dan berpotensi menurunkan kualitas penyelenggaraan acara.
Sejumlah pelaku UMKM yang biasa berjualan di sekitar lokasi juga mengeluhkan hal serupa. Mereka menilai, fasilitas toilet tidak hanya penting bagi pengunjung, tetapi juga bagi pedagang yang menghabiskan waktu berjam-jam selama kegiatan berlangsung.
Kondisi ini menjadi catatan penting dalam pengelolaan ruang publik berbasis ekonomi kreatif. Di satu sisi, pemerintah berhasil menghadirkan infrastruktur yang representatif untuk mendukung aktivitas seni dan ekonomi. Namun di sisi lain, kelengkapan fasilitas dasar justru terabaikan.
Jika dibiarkan berlarut, persoalan ini berpotensi mengurangi daya tarik panggung ekraf sebagai ruang interaksi publik. Terlebih di tengah upaya pemerintah daerah mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Masyarakat pun berharap, pemerintah daerah tidak hanya berhenti pada tahap “usulan”, tetapi segera merealisasikan pembangunan toilet sebagai prioritas. Sebab, keberhasilan sebuah ruang publik bukan hanya diukur dari kemegahan fisik, melainkan juga dari kenyamanan dan kelayakan fasilitas yang menyertainya.
Penulis : Nanang