BREAKING NEWS

HKTI Ponorogo Gas Pol! Demplot 5 Hektar di Manuk Siman Jadi Awal Swasembada Kedelai

Pengurus HKTI Kabupaten Ponorogo 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Ponorogo langsung tancap gas usai pelantikan kepengurusan. Di bawah komando Ketua HKTI, H. Sugeng Hariyono atau Sugeng Srikandi, program konkret segera dijalankan: menyiapkan demplot (demonstration plot) kedelai seluas 5 hektar di Desa Manuk, Kecamatan Siman, sebagai langkah awal menuju swasembada kedelai.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen HKTI dalam mendukung program Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan ketahanan pangan nasional. Sugeng menegaskan, setelah sektor jagung mulai menunjukkan tren positif menuju swasembada, kini perhatian difokuskan pada komoditas kedelai yang selama ini masih bergantung pada pasokan luar.

“Kedelai ini masih jadi persoalan, terutama bagi pengrajin tempe karena harga belum stabil. Maka kita mulai dari sini, dari Ponorogo, dengan demplot sebagai pilot project,” ujarnya kepada awak media Selasa, 21/7/2026.

Tak sekadar program simbolis, HKTI Ponorogo menyiapkan skema penguatan dari hulu hingga hilir. Pada tahap awal, penanaman akan menggunakan benih kedelai unggul untuk menjamin kualitas dan produktivitas. Hasilnya nanti tidak hanya ditargetkan memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga membuka peluang pasar lebih luas, bahkan hingga ekspor.

H. Sugeng Hariyono (Srikandi Listrik)
Ketua HKTI Kabupaten Ponorogo 

Selain fokus pada produksi, HKTI juga memetakan kolaborasi antara petani, peternak, dan Himpunan Mitra Dapur (HMP) sebagai bagian dari rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam skema ini, HKTI berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan hasil pertanian dengan kebutuhan dapur MBG, sehingga petani memiliki kepastian pasar.

“Yang kita bangun itu ekosistem. Petani menanam tidak ragu karena ada kepastian pasar. Harga juga kita dorong tetap stabil, supaya petani untung dan konsumen tidak terbebani,” jelas Sugeng.

Ia menekankan, keseimbangan antara produsen dan konsumen menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan. Harga yang terlalu rendah akan merugikan petani, sementara harga yang terlalu tinggi memberatkan masyarakat. Karena itu, stabilitas harga dan kepastian distribusi menjadi fokus utama HKTI.

Dari sisi organisasi, HKTI Ponorogo diperkuat sekitar 40 pengurus lintas sektor, mulai dari pertanian padi hingga hortikultura. Setiap bidang memiliki tugas dan program yang jelas, sehingga organisasi tidak hanya bersifat formalitas, melainkan benar-benar bekerja di lapangan.

Jaringan pengurus juga telah tersebar di hampir seluruh kecamatan di Ponorogo, memudahkan koordinasi dan pelaksanaan program secara merata. Dengan struktur ini, HKTI optimistis mampu mempercepat realisasi berbagai program strategis di sektor pertanian.

Sugeng menambahkan, semangat membangun kemandirian pangan ini sejalan dengan perhatian pemerintah pusat terhadap kesejahteraan petani. 

“Harapan kita sederhana, petani sejahtera, produksi meningkat, dan ketahanan pangan nasional benar-benar kuat,” tegasnya.

Dengan dimulainya demplot kedelai di Manuk Siman, HKTI Ponorogo menargetkan lahirnya model pertanian yang terintegrasi dan berkelanjutan. Jika berhasil, program ini bukan hanya menjadi solusi lokal, tetapi juga bisa direplikasi di daerah lain sebagai bagian dari upaya besar mewujudkan swasembada kedelai nasional.(Nang/Red).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar