Limbah Porang dan MBG Diduga Cemari Sungai Polorejo, DPRD Minta DLH Segera Turun

Agung Prijanto, SE, MM
Anggota DPRD Kabupaten Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Kondisi Sungai Polorejo di wilayah Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, menuai sorotan publik. Aliran sungai yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan warga kini tampak memprihatinkan. Air berubah keruh dengan warna kecoklatan, disertai kotoran yang diduga berasal dari limbah pengolahan porang dan aktivitas MBG di sekitar lokasi.
Kondisi tersebut pertama kali mencuat setelah diunggah oleh akun Facebook Hap Latull Arsy di grup ICWP pada Kamis (11/6/2026), sekitar lima jam sebelum kabar ini beredar luas. Unggahan itu langsung mendapat respons besar dari warganet, dengan ratusan tanda suka dan komentar yang sebagian besar bernada keluhan dan kekhawatiran.
Dalam unggahan tersebut, tampak aliran sungai dipenuhi material limbah yang membuat air berubah warna menjadi butek kecoklatan. Selain itu, sejumlah warga juga mengeluhkan bau tidak sedap yang menyengat, terutama saat debit air rendah.
Komentar warganet pun mencerminkan keresahan yang dirasakan masyarakat. Akun Rizky, misalnya, menulis, “Lebih baik tidak ada MBG dan porang. Insya Allah kaline resik. Hanya kui solusine.”
Sementara itu, akun Pingquence menyoroti dampak yang lebih luas, “Bikin pendangkalan kali dan bau busuk. Pencemaran udara. Hanya dengan air deras yang bisa memulihkan.”
Menanggapi hal tersebut, Agung Prijanto, anggota DPRD Kabupaten Ponorogo dari Fraksi PDIP Dapil 1 (Ponorogo–Babadan), mengaku prihatin dengan kondisi sungai tersebut. Ia meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) segera turun ke lapangan untuk menelusuri sumber pencemaran.
“Secepatnya kami minta DLH turun untuk mengecek langsung. Ditelusuri sumber pencemarannya dari mana, apakah benar seperti yang viral di media sosial,” ujarnya.
Agung juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian sungai. Menurutnya, sungai memiliki peran penting sebagai sumber pengairan pertanian dan kebutuhan lainnya.
“Sungai itu bukan tempat sampah. Harus kita jaga bersama agar tidak menimbulkan banjir saat musim hujan. Jangan buang sampah apalagi limbah yang belum diolah, karena itu sangat berbahaya. Ayo kita jaga dan selamatkan sungai kita,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ponorogo, Sapto Djadmiko, mengungkapkan bahwa indikasi pencemaran tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu. Pihaknya mengaku telah melakukan pengecekan awal di lapangan.
“LH sudah cek dan hasilnya kurang lebih seperti itu. Cuma kita masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan kebenarannya,” kata Sapto.
Sungai Polorejo sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu aliran penting bagi warga sekitar, baik untuk kebutuhan pertanian maupun aktivitas sehari-hari. Jika pencemaran terus terjadi, bukan hanya kualitas air yang menurun, tetapi juga keberlangsungan hidup masyarakat yang bergantung pada sungai tersebut. (Nang/Red).