Ancaman Hama Mengintai, Petani Tembakau Dapat ‘Senjata’ Baru dari DPRD Jatim
![]() |
| Kegiatan Sosialisasi OPT Tembakau di Pawon Dengok Madusari Siman Ponorogo |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT) masih menjadi momok serius bagi petani tembakau. Menjawab tantangan itu, DPRD Provinsi Jawa Timur melalui kegiatan sosialisasi perkebunan membekali petani dengan strategi pengendalian hama yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Kegiatan bertema “Antisipasi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Tanaman Tembakau” ini digelar di Pawon Dengok Madusari Siman Ponorogo, Kamis malam (23/7/2026), atas inisiasi Hj. Atika Banowati, SH, anggota Komisi D DPRD Jatim dari Dapil IX (Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, Magetan, dan Ngawi) fraksi Partai Golkar.
Meski tidak hadir secara langsung karena agenda lain, Atika menitipkan pesan penting agar petani tembakau semakin siap menghadapi serangan hama. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan sektor perkebunan untuk memberikan pemahaman menyeluruh kepada petani, mulai dari pola tanam, faktor cuaca, hingga teknik pencegahan serangan hama.
“Harapannya, petani tidak hanya tahu cara mengatasi, tetapi juga mampu mengantisipasi sejak awal,” pesannya.
Hadir sebagai narasumber, M. Tunggul Swastiko, SP, MP Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo, bersama Didik Darmanto, SST, M.Si yang memaparkan materi teknis terkait hama dan penyakit tanaman tembakau.
Hama Jadi Ancaman Nyata
Dalam pemaparannya, Didik menjelaskan bahwa hama merupakan organisme yang merusak tanaman dan berdampak langsung pada kerugian ekonomi. Sementara penyakit tanaman muncul akibat gangguan fungsi normal, baik dari faktor biotik maupun abiotik.
![]() |
| Didik Darmanto, SST, M.Si Narasumber kegiatan |
Beberapa hama utama yang kerap menyerang tembakau antara lain ulat grayak (Spodoptera litura), ulat tanah (Agrotis ipsilon), serta kutu daun seperti Bemisia tabaci dan Myzus persicae.
Khusus kutu daun, dampaknya tidak hanya merusak fisik tanaman, tetapi juga menurunkan kualitas daun hingga 50 persen, bahkan menjadi vektor berbagai virus tanaman.
PHT Jadi ‘Senjata’ Utama
Para petani diperkenalkan dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagai solusi utama. Pendekatan ini menggabungkan berbagai metode, mulai dari teknik mekanis, fisik, kultur teknis, hingga pemanfaatan musuh alami.
Penggunaan pestisida, baik nabati maupun kimia, ditegaskan hanya sebagai langkah terakhir agar tidak merusak lingkungan dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem.
“PHT ini bukan hanya efektif, tapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan,” jelas Didik.
Aspirasi Petani: Butuh Alsintan
Sesi diskusi berlangsung dinamis. Petani tembakau dari Kecamatan Siman menyampaikan kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk mendukung produktivitas.
Menanggapi hal tersebut, Tunggul Swastiko menyatakan pihaknya siap memfasilitasi, meski realisasi bantuan kemungkinan baru dapat dilakukan pada tahun depan.
“Kami akan lakukan survei lapangan terlebih dahulu agar bantuan tepat sasaran,” ujarnya.
Bekal Hadapi Musim Tanam
Sosialisasi ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kesiapan petani tembakau menghadapi musim tanam di tengah ancaman hama yang terus berkembang.
Dengan bekal pengetahuan tentang pola tanam, kondisi cuaca, serta teknik pengendalian yang tepat, petani diharapkan mampu menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen.
Singkatnya, ‘senjata’ baru yang dimaksud bukanlah alat fisik semata, melainkan pengetahuan dan strategi yang menjadi kunci utama melawan serangan hama di lapangan. (Nang/Red).

