BREAKING NEWS

Jejak Berliana Berlanjut! Kejurkab Ponorogo Jadi Panggung Lahirnya Atlet Dunia


PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Semangat regenerasi atlet panjat tebing terus bergelora di Ponorogo. Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) Panjat Tebing 2026 yang digelar di papan panjat Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Jumat (24/7/2026), menjadi momentum penting untuk melanjutkan jejak prestasi atlet muda berbakat, Putri Wijaya Berliana.

Nama Berliana masih menjadi inspirasi besar. Atlet asal Ponorogo itu sukses mengharumkan nama Indonesia setelah meraih medali perunggu dalam ajang IFSC Youth World Championship 2024 di Guiyang, China. Prestasi tersebut seolah menjadi bukti bahwa dari daerah, mimpi menembus panggung dunia bukanlah hal mustahil.

Kini, semangat itu coba diteruskan melalui Kejurkab Panjat Tebing 2026. Sebanyak 79 atlet dari 15 klub ambil bagian dalam kompetisi yang mempertandingkan nomor speed klasik dan lead. Atmosfer persaingan terasa ketat, namun penuh semangat sportivitas.

Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Ponorogo, Releyanda Solekha Wijayanti, menegaskan bahwa kejuaraan ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi bagian dari proses panjang pembinaan atlet. 

“Kami ingin melahirkan ‘Berliana-Berliana’ baru dari Ponorogo. Regenerasi harus terus berjalan agar prestasi tidak berhenti,” ujar Lely yang juga Anggita DPRD Kabupaten Ponorogo dari fraksi PDIP.

Menurutnya, potensi itu mulai terlihat. Dari total peserta, 20 atlet berasal dari kelompok usia di bawah 13 tahun (U-13). Kehadiran atlet usia dini ini menjadi fondasi penting dalam membangun prestasi jangka panjang.

“Ini menunjukkan panjat tebing semakin diminati. Bukan hanya banyak peminat, tapi juga berprestasi. Tahun lalu, Ponorogo meraih satu emas dan dua perak di Kejurprov Jatim 2025,” terang Lely, sapaan akrabnya.

Kejurkab ini juga menjadi sarana evaluasi bagi pelatih dan pengurus. Selain mengasah teknik dan mental bertanding, ajang ini memberi gambaran nyata tentang kekuatan atlet serta kebutuhan pembinaan ke depan.

Ketua panitia, Cahya Ratrina, menyebut kejuaraan tingkat kabupaten memiliki peran strategis dalam proses pembibitan atlet. “Kompetisi ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana atlet belajar, berkembang, dan siap menghadapi level yang lebih tinggi,” jelasnya.

Di balik optimisme tersebut, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Fasilitas latihan menjadi salah satu kendala utama. Kondisi papan panjat di Taman Klono Sewandono dinilai sudah tidak lagi memadai untuk menunjang pembinaan atlet berprestasi.

FPTI Ponorogo pun berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah, termasuk rencana relokasi fasilitas latihan ke tempat yang lebih representatif. 

“Kalau ingin mencetak atlet kelas dunia, fasilitas juga harus mendukung,” tegas Lely.

Kejurkab Panjat Tebing Ponorogo 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar ajang kompetisi. Ia adalah panggung harapan, tempat lahirnya mimpi-mimpi baru. Dari dinding panjat sederhana di Ponorogo, bukan tidak mungkin akan muncul atlet-atlet yang kelak berdiri di podium dunia, melanjutkan jejak Berliana.(Nang/Kominfo).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar