BREAKING NEWS

OPT Ancam Tembakau, Atika Banowati Turun Gunung Bekali Petani Strategi PHT

Suasana sosialisasi tema perkebunan OPT pada tanaman Tembakau bersama Hj. Atika Banowati, SH anggota Komisi D DPRD Propinsi Jatim fraksi partai Golkar 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT) terhadap tanaman tembakau menjadi perhatian serius. Untuk memperkuat kesiapan petani, Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, Hj. Atika Banowati, SH, turun langsung memberikan pembekalan melalui sosialisasi di Aula Maesa Hotel Ponorogo, Jumat (24/7/2026).

Kegiatan bertema perkebunan ini menghadirkan dua narasumber dari Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo, yakni M. Tunggul Swastiko, SP, MP dan Didik Darmanto, SST, M.Si. Puluhan petani tembakau dari berbagai wilayah hadir dan aktif berdiskusi dalam forum tersebut.

Dalam sambutannya, Atika menegaskan bahwa persoalan hama dan penyakit tanaman kerap menjadi faktor utama kerugian petani. Karena itu, ia mendorong peningkatan pengetahuan agar petani tidak lagi ragu menanam tembakau.

“Petani harus berani menanam. Dengan pengetahuan yang cukup, OPT bisa diantisipasi dan ditangani dengan tepat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya interaksi langsung antara petani dan narasumber agar solusi yang diberikan benar-benar sesuai kondisi lapangan. Atika berharap, kegiatan ini mampu menambah wawasan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri petani dalam mengelola tanaman tembakau.

“Harapannya, petani semakin paham, hasil tetap optimal, dan kualitas tembakau terjaga,” tambahnya, sembari memohon doa agar dirinya dan para petani selalu diberi kesehatan.

Narasumber pertama, M. Tunggul Swastiko, menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung kebutuhan petani, termasuk pengajuan bantuan alat rajang tembakau melalui proposal.

“Silakan ajukan proposal, nanti kami lakukan survei kelayakan. Kami juga siap mendampingi petani jika mengalami kendala, terutama terkait hama dan penyakit,” jelasnya.

Dengan suasana santai, Tunggul bahkan berkelakar bahwa cuaca panas yang menyelimuti kegiatan justru menjadi kondisi ideal bagi tanaman tembakau. “Ini justru yang diinginkan petani,” ujarnya, disambut tawa peserta.

Sementara itu, Didik Darmanto mengupas tuntas persoalan OPT. Ia menjelaskan bahwa hama merupakan organisme yang merusak tanaman secara langsung dan berdampak pada kerugian ekonomi, sedangkan penyakit tanaman muncul akibat gangguan fungsi normal, baik karena faktor biotik maupun abiotik.

Beberapa hama utama pada tembakau yang perlu diwaspadai antara lain ulat grayak (Spodoptera litura), ulat tanah (Agrotis ipsilon), serta kutu daun seperti Bemisia tabaci dan Myzus persicae.

“Khusus kutu daun, dampaknya bisa menurunkan kualitas daun hingga 50 persen, bahkan menjadi vektor berbagai virus tanaman,” paparnya.

Sebagai solusi utama, Didik memperkenalkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pendekatan ini mengombinasikan berbagai metode, mulai dari mekanis, fisik, kultur teknis, hingga pemanfaatan musuh alami.

“Penggunaan pestisida hanya sebagai langkah terakhir. PHT ini efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Melalui sosialisasi ini, petani tembakau di Ponorogo diharapkan tidak lagi gamang menghadapi ancaman OPT. Dengan strategi PHT, mereka kini memiliki bekal untuk melindungi tanaman sekaligus menjaga produktivitas dan kualitas hasil panen.(Nang/Red).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar