“Sepi Ing Gawe, Rame Ing Pamrih!” Bursa Wabup Ponorogo Memanas, Tim Pemenangan Mulai Buka Suara

H. Sugeng Hariyono
Ketua Team Pemenangan Rilis
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Dinamika politik di Kabupaten Ponorogo kian menghangat. Bursa calon Wakil Bupati (Wabup) yang akan mendampingi Lisdyarita mulai dipenuhi manuver berbagai pihak. Sejumlah nama bermunculan, seiring DPRD Ponorogo yang tengah menyusun tata tertib pemilihan wakil bupati, menjelang vonis terhadap Bupati nonaktif Sugiri Sancoko pada 11 Agustus 2026.
Partai-partai pengusung pasangan Sugiri–Lisdyarita (Rilis) pun mulai membuka peluang. Partai Golkar memberi sinyal akan mengusulkan kadernya, sementara Partai Demokrat secara terang-terangan menyebut telah menyiapkan dua nama terbaik untuk diusulkan sebagai pendamping Lisdyarita di sisa masa jabatan.
Tak hanya itu, partai politik lain juga tak ingin tertinggal. Mereka mulai memunculkan kandidat masing-masing, memperlihatkan bahwa kursi wakil bupati kini menjadi ruang kontestasi baru yang sarat kepentingan politik.
Namun di tengah riuhnya manuver elite partai, suara keras justru datang dari internal tim pemenangan Rilis.
H. Sugeng Hariyono atau yang dikenal sebagai Sugeng Srikandi, Ketua Tim Pemenangan Rilis, melontarkan kritik tajam. Ia menilai banyak pihak yang kini aktif mengusulkan nama justru tidak terlibat dalam perjuangan saat Pilkada berlangsung.
“Saya tahu betul siapa yang benar-benar berjuang. Siapa yang mati-matian mengantarkan pasangan ini menang,” ujar Sugeng, Rabu (29/7/2026).
Dengan nada kecewa, ia mengungkapkan bahwa saat masa perjuangan, terutama ketika dibutuhkan dukungan, banyak pihak justru tidak hadir. Bahkan, menurutnya, ada yang justru melemahkan perjuangan tim.
“Dulu saat kita butuh dukungan, pada ke mana? Hilang. Sekarang sudah ada posisi, ramai-ramai mengusulkan nama. Demi Allah, saya tidak rela,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan, sekaligus mencerminkan kegelisahan di akar rumput tim pemenangan terhadap dinamika politik yang dinilai berubah arah.
Sugeng juga menyinggung realitas politik yang tak lepas dari biaya besar dalam proses pencalonan kepala daerah. Ia menyiratkan bahwa perjuangan politik bukan hal yang mudah dan tidak bisa dilepaskan dari pengorbanan, termasuk secara finansial.
“Semua orang tahu, pencalonan itu tidak gratis,” ucapnya singkat.
Meski demikian, Sugeng menegaskan dirinya tidak memiliki keinginan untuk maju sebagai calon wakil bupati. Ia justru mempertanyakan, siapa yang akan mengusulkan dirinya jika tidak ada rekam jejak perjuangan yang nyata.
Dari situ, ia melontarkan ungkapan yang kini ramai diperbincangkan: “Sepi ing gawe, rame ing pamrih”—sebuah sindiran bagi mereka yang tidak hadir saat bekerja, namun muncul ketika ada kepentingan.
Lebih jauh, Sugeng mengisyaratkan kemungkinan langkah berbeda dalam proses penentuan wakil bupati. Ia membuka wacana agar figur yang diusulkan berasal dari kalangan non-partai, sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus menjaga kondusivitas daerah.
“Kami ingin memastikan perjuangan ini tidak ternodai kepentingan sesaat. Ada opsi dari non-partai,” ujarnya.
Wacana ini diprediksi akan memicu dinamika baru. Di satu sisi, partai politik memiliki kewenangan dalam mengusulkan kandidat. Namun di sisi lain, faktor loyalitas, rekam jejak, serta legitimasi moral menjadi sorotan yang tak bisa diabaikan.
Ponorogo kini berada di titik krusial. Penentuan sosok wakil bupati bukan sekadar mengisi kekosongan jabatan, tetapi juga menentukan arah stabilitas politik dan pemerintahan ke depan.
Siapa yang akhirnya akan mendampingi Lisdyarita? Apakah kader partai, atau justru figur non-partai seperti yang mulai diwacanakan?
Yang jelas, bursa Wakil Bupati Ponorogo kini bukan hanya soal jabatan—melainkan juga pertaruhan antara loyalitas, kepentingan, dan masa depan daerah.(Nang/Red).