BREAKING NEWS

SPMB 2026, SMPN 1 Sawoo Kekurangan 83 Siswa: Alarm Serius bagi Dunia Pendidikan di Ponorogo

Mega, Gapura masuk SMPN 1 Sawoo Ponorogo 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Kondisi penerimaan peserta didik baru (SPMB) tahun 2026 di SMPN 1 Sawoo Ponorogo menjadi perhatian serius. Sekolah tersebut mengalami kekurangan murid yang cukup signifikan, yakni mencapai 83 siswa dari total pagu yang tersedia.

Dari pagu enam kelas dengan kapasitas maksimal 32 siswa per kelas sesuai data Dapodik, hingga awal Juli 2026, jumlah siswa yang berhasil dihimpun baru mencapai 109 siswa. Artinya, secara riil hanya terpenuhi empat kelas, sementara dua kelas lainnya masih kosong.

Kepala SMPN 1 Sawoo, Susanto, saat dikonfirmasi pada Rabu (1/7/2026) di ruang kerjanya menjelaskan bahwa kondisi ini bukan pertama kali terjadi. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah rombongan belajar (rombel) yang terbentuk juga hanya berkisar empat kelas.

“Tahun lalu kami mendapatkan 114 siswa, sekarang 109 siswa. Artinya hampir sama. Biasanya masih ada tambahan siswa di tengah jalan, misalnya pindahan dari sekolah lain atau dari pondok pesantren,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun jumlah lulusan SD di wilayah tersebut cukup besar—bahkan lulusan tahun 2026 disebut mencapai sekitar 150 anak—namun tidak semuanya melanjutkan ke SMPN 1 Sawoo. Hal ini menjadi indikator adanya dinamika pilihan sekolah di masyarakat.

Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah masih membuka pendaftaran secara offline hingga Juli 2026. Hal ini dilakukan agar calon siswa tetap bisa terakomodasi dan tercatat dalam sistem Dapodik.

“Selama masih memungkinkan untuk masuk Dapodik, kami tetap membuka pendaftaran. Ini bagian dari upaya kami agar anak-anak tetap mendapatkan akses pendidikan,” jelas Susanto.

Menariknya, Susanto sendiri merupakan kepala sekolah baru yang dilantik pada Mei 2026. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kepala SMPN 4 Sawoo. Di masa awal kepemimpinannya ini, ia menilai persoalan kekurangan siswa bukan sekadar masalah internal sekolah, melainkan persoalan bersama yang perlu dicari solusinya secara kolektif.

“Kondisi ini perlu perhatian bersama. Harus ada evaluasi dan duduk bersama, baik dari pihak sekolah, dinas pendidikan, maupun masyarakat, untuk mencari langkah strategis meningkatkan jumlah siswa ke depan,” tegasnya.

Fenomena kekurangan siswa ini menjadi potret nyata tantangan pendidikan di daerah, terutama terkait persebaran peserta didik, minat masyarakat, hingga daya tarik sekolah. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi berdampak pada efektivitas pembelajaran hingga keberlangsungan sekolah di masa depan.

SMPN 1 Sawoo kini tidak hanya berupaya bertahan, tetapi juga berbenah—membangun kepercayaan publik dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan agar kembali menjadi pilihan utama masyarakat.

Penulis : Nanang

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar