Atika Banowati Serukan Penguatan Reyog: Lestari, Berdaya dan Mendunia

Suasana sosialisasi tema "Membaca eksistensi yayasan Reyog Ponorogo kini dan masa depan bersama Hj Atika Banowati, SH
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Pengakuan Reyog Ponorogo sebagai warisan budaya takbenda UNESCO harus menjadi momentum untuk semakin memperkuat ekosistem kesenian khas Ponorogo tersebut.
Pesan itu disampaikan Hj. Atika Banowati, SH, dalam sosialisasi bertema “Membaca Eksistensi Yayasan Reyog Ponorogo Kini dan Masa Depan” yang digelar di Pawon Dengok Ponorogo, Jumat (28/8/2026).
Atika menegaskan, Reyog bukan sekadar kesenian pertunjukan, tetapi bagian dari identitas dan ikatan batin masyarakat Ponorogo. Karena itu, keberadaannya harus dijaga agar tetap lestari, memiliki nilai ekonomi bagi pelaku seni dan mampu berkembang hingga tingkat dunia.
“Sudah menjadi tugas kita semua agar Reyog tetap lestari, berdaya dan mendunia,” ujar Atika.
Ia juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap para pelaku seni dan regenerasi. Menurutnya, pengakuan UNESCO tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan, tetapi harus diterjemahkan menjadi program nyata untuk menjaga keberlangsungan Reyog.
Sementara itu, Eko Priyo Utomo, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Ponorogo sekaligus anggota DPRD Ponorogo, menekankan pentingnya kolaborasi antara DPRD Kabupaten, Provinsi hingga pemerintah pusat dalam mengawal aspirasi masyarakat, termasuk dukungan terhadap sarana dan prasarana kebudayaan.
Dalam forum tersebut, narasumber Dedy Satya Amijaya menyoroti regenerasi sebagai salah satu tantangan utama Reyog. Menurutnya, ekosistem Reyog tidak hanya terdiri dari penari, tetapi juga pengrawit, warok, pembarong, pengrajin, sanggar, komunitas hingga generasi muda.
Dedy juga mendorong adanya lembaga yang menjadi “rumah besar” bagi seluruh ekosistem Reyog, sekaligus memperkuat regenerasi dan mengawal program pelestarian.
Menurutnya, masa depan Reyog membutuhkan dukungan kebijakan, anggaran, dokumentasi, pendataan pelaku seni serta keberlanjutan festival.
Reyog sudah mendunia. Tantangannya kini adalah memastikan kesenian itu tetap hidup, berdaya dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Nang/Red).