Drumer Cilik SMP Muhammadiyah 2 Ponorogo Tampil Memukau di Seminar Anti-Bullying
![]() |
| Arjuna bersama guru/ humas SMP Muhammadiyah 2 Ponorogo. |
PONOROGO, SINYALPONOROGO - Suasana cerah di halaman Gedung Terpadu Ponorogo, Rabu (16/9/26), diwarnai dentuman drum elektrik yang energik. Di balik perangkat drum tersebut, seorang siswa SMP Muhammadiyah 2 Ponorogo, Arjuna Nur Sanjaya, tampil percaya diri sebagai drumer dalam kegiatan Seminar Anti-Bullying yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Ponorogo.
Arjuna tampil solo memainkan drum dan beberapa lagu diiringi oleh vokal Arya Pramudika, salah satu Shadow teacher anak berkebutuhan khusus SMP Muhammadiyah 2 Ponorogo. Tidak hanya membawakan lagu yang telah dipersiapkan, Arjuna juga mampu mengikuti permintaan lagu dari para undangan.
![]() |
| Juna ketika tampil di Unmuh foto bareng Ustad Wijayanto |
Hampir 10 lagu berhasil ia iringi dengan permainan drum yang atraktif dan penuh percaya diri.
Penampilan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan seminar. Bagi Arjuna, tampil di hadapan banyak orang bukan sekadar menunjukkan kemampuan bermusik, tetapi juga menjadi ruang untuk mengasah keberanian dan kepercayaan dirinya.
Ayah Arjuna, Agung Sukarno, mengungkapkan bahwa putranya merupakan siswa berkebutuhan khusus (ABK) dengan disleksia. Namun, sejak bersekolah di SMP Muhammadiyah 2 Ponorogo, ia melihat perkembangan Arjuna yang sangat positif, khususnya dalam keberanian dan kepercayaan diri.
“Memang anak saya memiliki bakat bermain drum. Di sekolah, bakat itu disambut, didukung, dan difasilitasi. Dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, Arjuna semakin berani tampil dan kepercayaan dirinya semakin terasah,” ungkap Agung.
Menurutnya, dukungan sekolah menjadi bagian penting dalam perkembangan Arjuna. Sekolah tidak hanya memberikan ruang bagi Arjuna untuk belajar sesuai kebutuhannya, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Agung juga menilai SMP Muhammadiyah 2 Ponorogo memiliki komitmen dalam memberikan layanan pendidikan inklusif. Menurutnya, pembiasaan keagamaan dan pendidikan karakter menjadi bagian yang terus diterapkan dalam keseharian siswa.
“Kalau soal pelajaran agama dan praktik keagamaan setiap hari, tidak perlu diragukan. Sekolah juga selalu menekankan pentingnya saling menghormati dan menyayangi antarsesama, termasuk antara siswa ABK dan teman-temannya. Nilai-nilai itu tidak hanya disampaikan, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Ia berharap pengalaman Arjuna dapat menjadi contoh bahwa setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang apabila mendapatkan dukungan, kesempatan, dan lingkungan belajar yang sesuai.
Penampilan Arjuna dalam Seminar Anti-Bullying tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak berhenti pada penerimaan siswa berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah. Lebih dari itu, inklusi juga berarti memberikan ruang bagi setiap anak untuk menemukan, mengembangkan, dan menunjukkan potensi terbaiknya.(Dik/Red).

