Ketahanan Pangan Rutan Ponorogo Berbuah Hasil, 75 Ayam Joper Dipanen
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Program ketahanan pangan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ponorogo mulai menunjukkan hasil konkret. Sebanyak 75 ekor ayam Joper (Jowo Super) dipanen pada Kamis (17/9), dengan total bobot mencapai 100 kilogram.
Panen berlangsung di area peternakan Rutan Ponorogo. Ayam yang telah memasuki masa panen diperiksa, diambil, kemudian ditimbang untuk memastikan hasil produksi. Dari 75 ekor ayam, bobot keseluruhan tercatat sekitar 100 kilogram.
Yang menarik, hasil panen tersebut langsung terserap pembeli dari luar. Artinya, kegiatan peternakan di dalam Rutan tidak berhenti pada aktivitas pembinaan, tetapi mulai memperlihatkan rantai produksi yang memiliki nilai ekonomi.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Mereka mendapat ruang untuk belajar mengelola kegiatan produktif, mengenal proses budidaya, hingga memahami bahwa keterampilan sederhana dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi.
Kepala Rutan Kelas IIB Ponorogo, M. Agung Nugroho, mengatakan panen tersebut menjadi salah satu indikator bahwa program ketahanan pangan yang dikembangkan mulai memberikan hasil nyata.
“Panen ini menjadi salah satu bukti bahwa program ketahanan pangan yang kami kembangkan dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus ditingkatkan, baik dari sisi produksi maupun pengelolaannya,” ujar Agung.
Menurut dia, pengembangan peternakan akan terus didorong agar tidak sekadar mengejar jumlah produksi. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses pembentukan keterampilan warga binaan yang bisa dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat.
Dari kandang, menjadi komoditas. Dari pembinaan, menjadi keterampilan. Panen 75 ayam Joper ini mungkin bukan angka yang besar, tetapi menunjukkan bahwa program ketahanan pangan di Rutan Ponorogo mulai bergerak dari sekadar gagasan menuju hasil yang bisa dihitung dan memiliki nilai ekonomi.
Ke depan, tantangannya adalah menjaga keberlanjutan produksi, memperluas penyerapan pasar, serta memastikan kegiatan peternakan tetap berjalan sebagai instrumen pembinaan kemandirian warga binaan.(Nang/Red).
