RSUD dr Harjono Maju Melesat, Bidik Jadi Rumah Sakit Rujukan Terlengkap di Ponorogo

drg. Heni Lestari, M.Kes
Wakil Direktur Pelayanan ketika mengikuti acara dirumah konsultasi publik
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Tak ingin masyarakat Ponorogo harus keluar daerah demi mendapatkan layanan kesehatan, RSUD dr. Harjono S. Ponorogo terus tancap gas memperkuat kualitas dan kelengkapan pelayanan.
Targetnya jelas: meningkatkan kompetensi dan kapasitas sebagai rumah sakit rujukan yang semakin lengkap, modern, dan mudah diakses masyarakat.
Komitmen itu mengemuka dalam Forum Konsultasi Publik Penyampaian Progres dan Evaluasi Pelayanan di Aula RSUD dr. Harjono Ponorogo, Rabu (9/9/2026).
Forum tersebut mempertemukan jajaran rumah sakit dengan pemerintah daerah, tamu undangan, serta insan media untuk mengevaluasi pelayanan sekaligus menyerap kritik, masukan, dan gagasan baru dari publik.
![]() |
| Kabid Humas, Sugiyanto ketika pemaparan |
Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr. Harjono, drg. Heni Lestari, M.Kes., mengatakan pihaknya membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan kekurangan maupun kebutuhan layanan yang selama ini belum tersedia.
“Kalau dari pihak pasien, keluarga ataupun pihak luar masih ada hal-hal yang dirasa belum pas, monggo kami diberikan masukan. Kami akan berupaya melakukan perbaikan sebisa mungkin dan semaksimal mungkin agar pelayanan menjadi lebih baik,” ujarnya.
Menurut Heni, kelengkapan pelayanan menjadi salah satu kunci agar masyarakat tidak perlu menempuh perjalanan ke rumah sakit di daerah lain.
“Sejatinya rumah sakit itu memiliki pelayanan yang lengkap supaya masyarakat tidak usah jauh-jauh ke kabupaten lain atau rumah sakit lain,” tegasnya.
Bukan Sekadar Gedung dan Alat Canggih
Transformasi RSUD dr. Harjono tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik. Peningkatan kompetensi pelayanan, pengembangan sumber daya manusia, inovasi, hingga pemanfaatan teknologi kesehatan terus didorong.
Saat ini, sejumlah fasilitas penunjang medis telah tersedia, termasuk MRI dan CT Scan 128 slice, di samping berbagai instalasi dan layanan kesehatan lainnya.
Kehadiran fasilitas tersebut memperkuat kemampuan RSUD dr. Harjono dalam menangani kebutuhan pasien yang membutuhkan pemeriksaan maupun pelayanan medis dengan dukungan teknologi modern.
Kepala Bidang Humas RSUD dr. Harjono, Sugiyanto, dalam forum tersebut juga memaparkan profil rumah sakit, perkembangan layanan, business plan, serta berbagai inovasi yang terus dikembangkan.
Namun, manajemen menyadari bahwa rumah sakit yang baik bukan hanya dinilai dari banyaknya fasilitas.
Kecepatan pelayanan, kenyamanan pasien, kompetensi tenaga kesehatan, kemudahan akses, dan kemampuan menjawab kebutuhan masyarakat menjadi ukuran yang tidak kalah penting.
Karena itu, forum konsultasi publik menjadi momentum untuk menguji sejauh mana pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan harapan masyarakat.
Kejar Biakesmaskin, Warga Miskin Tak Perlu Keluar Daerah
Salah satu terobosan yang sedang diperjuangkan adalah pelayanan melalui skema Biakesmaskin bagi masyarakat miskin yang memenuhi ketentuan namun belum memiliki BPJS.
Heni menjelaskan, proses kerja sama dengan pemerintah masih berjalan. RSUD dr. Harjono telah menjalani supervisi dan saat ini menunggu SK Gubernur Jawa Timur.
Jika terealisasi, layanan tersebut diharapkan semakin memperluas akses masyarakat kurang mampu untuk memperoleh pelayanan kesehatan di Ponorogo.
Persoalannya bukan semata jarak. Ketika pasien harus dirujuk ke luar daerah, keluarga juga harus memikirkan transportasi, biaya hidup, kendaraan, hingga tempat tinggal selama mendampingi pasien.
“Kalau dirujuk ke luar daerah, pasien dan keluarga masih banyak yang merasa jauh. Apalagi kalau tidak punya kendaraan atau tidak ada keluarga yang menunggu,” ungkap Heni.
Karena itu, memperkuat rumah sakit rujukan di daerah memiliki dampak lebih luas: mengurangi beban pasien sekaligus menjaga agar perputaran layanan kesehatan tetap berada di Ponorogo.
109 Tahun Perjalanan, Kini Masuk Babak Baru
Perjalanan RSUD dr. Harjono bukanlah proses singkat.
Berawal dari perjalanan panjang sejak 1917, rumah sakit ini terus mengalami perkembangan status dan kapasitas pelayanan. Dari RSUD Tipe D pada 1979, meningkat menjadi Tipe C pada 1988, kemudian menjadi Tipe B pada 2004.
RSUD dr. Harjono selanjutnya ditetapkan sebagai BLUD pada 2011 dan berkembang menjadi Rumah Sakit Tipe B Pendidikan pada 2012.
Dengan perjalanan panjang tersebut, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan capaian, tetapi melakukan lompatan pelayanan.
RSUD dr. Harjono ingin maju melesat—bukan hanya menjadi rumah sakit yang besar, tetapi menjadi rumah sakit rujukan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Dan pesan dari forum konsultasi publik hari ini cukup jelas: masyarakat tidak hanya membutuhkan rumah sakit yang lengkap, tetapi pelayanan yang semakin manusiawi, cepat, mudah, dan berkualitas.
Kini, bola ada di tangan RSUD dr. Harjono untuk membuktikan bahwa slogan “maju melesat meningkatkan kompetensi pelayanan sebagai rumah sakit rujukan” bukan sekadar kalimat, melainkan arah perubahan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat Ponorogo.(Nang/Red).

