Tak Sekadar Menjalani Hukuman, Warga Binaan Rutan Ponorogo Tetap Punya Kesempatan Mengenyam Pendidikan
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Menjalani masa pembinaan di balik jeruji besi bukan berarti harus menghentikan langkah untuk meraih pendidikan. Kesempatan belajar tetap terbuka bagi warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ponorogo melalui program pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui sinergi Rutan Ponorogo bersama Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Ponorogo dengan menggelar Asesmen Sumatif 2 bagi warga binaan, Selasa (3/11/2026).
Bertempat di Aula Sasono Condrodimuko Rutan Ponorogo, asesmen ini menjadi bagian dari evaluasi pembelajaran untuk mengukur pemahaman, kemampuan, serta capaian akademik warga binaan selama mengikuti pendidikan kesetaraan.
Kegiatan tersebut diikuti peserta dari tiga jenjang pendidikan, yakni Paket A setara sekolah dasar (SD), Paket B setara sekolah menengah pertama (SMP), dan Paket C setara sekolah menengah atas (SMA). Pelaksanaannya didampingi dan diawasi tenaga pendidik dari SKB Kabupaten Ponorogo.
Asesmen dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 3 hingga 6 November 2026. Sejumlah mata pelajaran diujikan, mulai Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Jawa, Bahasa Inggris, Pendidikan Pancasila, hingga Komputer Aplikasi Perkantoran.
Kepala Rutan Ponorogo, M. Agung Nugroho, menegaskan bahwa pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembinaan warga binaan. Hak untuk memperoleh pendidikan harus tetap terpenuhi, termasuk bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana.
Menurutnya, program pendidikan kesetaraan bukan sekadar memberikan kesempatan mengikuti pembelajaran, tetapi juga membuka jalan bagi warga binaan untuk menuntaskan pendidikan yang sebelumnya belum terselesaikan.
Melalui pendidikan, warga binaan diharapkan memiliki pengetahuan lebih luas, kemampuan yang semakin berkembang, serta kepercayaan diri untuk menata masa depan.
Sinergi dengan SKB Kabupaten Ponorogo pun menjadi langkah penting agar proses pendidikan tetap berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
Sebab, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari bagaimana warga binaan menjalani masa hukuman, tetapi juga dari sejauh mana mereka memperoleh bekal untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Pendidikan menjadi salah satu pintu untuk membuka kesempatan baru. Dari balik tembok rutan, semangat belajar tetap tumbuh dan harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik tetap terjaga.(Nang/Red).
