BREAKING NEWS

SPPG Banyudono 1 Tegaskan Steril dari Aktivitas Usaha Lain, Fokus Penuhi Gizi Anak Sekolah

SPPG Banyudono 1 Ponorogo 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
— SPPG Banyudono 1 Ponorogo akhirnya angkat bicara menanggapi pemberitaan yang menyebut dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut berada di bawah sarang burung walet. Pengelola menegaskan, tudingan itu tidak sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.

Kepala SPPG Banyudono 1, Adelia, menyatakan bahwa dapur SPPG resmi mulai beroperasi sejak 19 Januari 2026 dan sejak awal telah berkomitmen penuh mematuhi aturan Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk larangan adanya aktivitas ekonomi lain di lingkungan SPPG.

“Memang benar, secara historis lantai tiga dan empat gedung ini dulu digunakan untuk sarang burung walet. Tapi itu masa lalu. Sejak bergabung dengan BGN dan ditetapkan sebagai dapur SPPG, semua aktivitas itu sudah ditutup total dan dibersihkan,” tegas Adelia, Kamis, 5 Februari 2026.

Menurutnya, keputusan menutup sarang walet bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan profesional, mengingat makanan yang diproduksi SPPG diperuntukkan bagi anak-anak sekolah.

“Kami pegang teguh aturan. Tidak boleh ada usaha lain di lingkungan SPPG. Ini soal kredibilitas dan keamanan pangan, karena yang kami layani adalah anak-anak,” ujarnya.

Adelia juga menambahkan, SPPG Banyudono 1 telah mengantongi Surat Layak Higienis dan Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan setempat sebagai bukti bahwa proses produksi makanan telah memenuhi standar kebersihan dan kesehatan.

Ia menyayangkan pemberitaan yang terlanjur beredar tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak pengelola. Padahal, kata dia, SPPG Banyudono 1 selalu terbuka terhadap kritik dan masukan.

“Kami ini terbuka, welcome dengan siapa saja. Kritik itu penting untuk perbaikan. Tapi kami juga berharap ada konfirmasi agar informasinya berimbang, tidak terkesan menyudutkan,” katanya.

Terkait suara burung walet yang masih terdengar di sekitar lokasi, Adelia memastikan sumber suara tersebut bukan berasal dari gedung SPPG. Seluruh perangkat pemanggil walet telah dilepas sejak lama.

“Kalau masih terdengar suara burung, itu dari seberang jalan, dekat lampu merah Pasar Legi. Bukan dari tempat kami,” jelasnya.

Saat ini, SPPG Banyudono 1 melayani 9 sekolah, mulai dari jenjang TK/PAUD hingga SMK, dengan total 2.070 porsi makanan per hari. Jumlah tersebut berpotensi meningkat hingga 2.500 porsi, seiring siswa SMK yang tengah menjalani praktik kerja lapangan (PKL).

Senada, Amri, Ketua yayasan yang menaungi SPPG Banyudono 1, menegaskan bahwa sejak awal telah ada konsensus antara yayasan dan pemodal untuk menutup seluruh usaha di lantai atas gedung. Kesepakatan itu menjadi bagian dari pertanggungjawaban kepada BGN.

“Intinya kami hanya berharap SPPG Banyudono 1 bisa berjalan lancar dan aman, sesuai aturan. Tidak ada sarang burung walet seperti yang dituduhkan,” kata Amri.

Sebelumnya, sebuah media online memberitakan bahwa SPPG Banyudono 1 berada di bawah sarang burung walet. Seorang politisi bahkan mendesak dilakukan pengkajian ulang terhadap operasional SPPG di bawah naungan Yayasan Whana Chatra Indonesia, demi menjamin rasa aman bagi anak-anak penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dengan klarifikasi ini, pengelola berharap polemik segera berakhir dan perhatian publik kembali difokuskan pada tujuan utama SPPG: menjamin makanan sehat, bergizi, dan higienis bagi generasi masa depan.

Penulis : Nanang

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar