Tembakau Kian Menjanjikan, Hj. Atika Banowati, DPRD Jatim Dorong Petani Ponorogo Tangkap Peluang Kemarau 2026

Hj. Atika Banowati, SH anggota Komisi D DPRD Propinsi Jatim fraksi partai Golkar dalam acara sosialisasi potensi tembakau di kabupaten Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Harapan baru bagi petani kembali mengemuka dari Desa Sendang, Kecamatan Jambon. Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, Fraksi Partai Golkar Hj. Atika Banowati, SH, mendorong petani memaksimalkan potensi tembakau sebagai komoditas unggulan yang dinilai kian prospektif.
Dalam sosialisasi bertema potensi tembakau di Balai Desa Sendang, Sabtu (28/3/2026), Atika menegaskan bahwa momentum tahun ini patut dimanfaatkan. Prediksi musim kemarau yang datang lebih awal menjadi peluang emas bagi petani.
“Kalau melihat prediksi cuaca, kemarau mulai April. Ini kondisi ideal untuk tembakau. Kami berharap petani berani menanam karena potensinya sangat besar,” ujarnya.
Ia menekankan, tembakau bukan sekadar tanaman alternatif. Dengan pengelolaan yang baik—mulai dari teknik tanam, perawatan hingga akses pasar—komoditas ini mampu mendongkrak pendapatan petani secara signifikan.
Optimisme itu bukan tanpa dasar. Data Dinas Pertanian Ponorogo menunjukkan tren peningkatan luas tanam tembakau yang cukup tajam. Dari sekitar 800 hektare pada 2020, melonjak menjadi lebih dari 1.900 hektare pada 2024. Meski sempat turun di 2025 akibat anomali cuaca, potensi rebound dinilai sangat terbuka.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Ponorogo, M. Tunggul Swastiko, SP, MP, menyebut faktor cuaca menjadi kunci utama naik-turunnya produksi.
“Tahun lalu turun karena cuaca tidak menentu. Tapi 2026 ini diprediksi kemarau lebih panjang. Ini momentum bagi petani untuk kembali mengoptimalkan tembakau,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika dikelola serius, tembakau terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Kenaikan luas lahan menjadi indikator nyata bahwa komoditas ini kian diminati.
Di sisi lain, tantangan juga mengintai. Narasumber lain, Didik Darmanto, ST, M.Si, mengingatkan soal ancaman organisme pengganggu tanaman (OPT) yang cenderung meningkat saat cuaca tidak stabil.
Menurutnya, praktik pertanian konvensional yang berlebihan justru memperparah kondisi lahan. Penurunan kesuburan tanah, berkurangnya biodiversitas, hingga meningkatnya ketergantungan pada pupuk dan pestisida menjadi ancaman serius.
“Solusinya, perkuat pengendalian hayati. Gunakan sistem tanam beragam, perbanyak bahan organik, dan kurangi bahan kimia. Ini penting agar lahan tetap sehat dan produktif,” paparnya.
Menariknya, suasana sosialisasi berlangsung dinamis. Acara semakin hidup dengan sesi tanya jawab antara peserta, pemateri, dan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Para petani tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif mengulas kembali paparan yang disampaikan serta menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lapangan—mulai dari cuaca yang tidak menentu, serangan hama, hingga fluktuasi harga.
Interaksi tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus solusi, sehingga kegiatan tidak berhenti pada teori, tetapi menyentuh langsung kebutuhan riil petani.
Sementara itu, Kepala Desa Sendang, Taufiqurrahman, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia mengaku sosialisasi ini memberi suntikan semangat baru bagi warganya.
“Tembakau sudah jadi andalan di sini. Dengan adanya sosialisasi ini, petani jadi lebih paham dan makin percaya diri untuk mengembangkan,” ujarnya.
Ia berharap dukungan dari pemerintah dan legislatif terus berlanjut, sehingga petani tidak hanya menanam, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas dan daya saing hasil panen.
Dengan kombinasi cuaca yang mendukung, harga yang stabil, serta peningkatan pengetahuan petani, tembakau kini bukan lagi sekadar pilihan—melainkan peluang nyata untuk mengangkat ekonomi desa.
Penulis : Nanang
