Dari Sepeda Ontel ke Tanah Suci: Kisah Wartawan Ponorogo Menembus Batas, 26 Tahun Menabung Demi Haji
![]() |
| Muhammad Yani dengan istrinya Ambar Amborowati siap tunaikan ibadah haji |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Profesi wartawan kerap dipandang penuh ketidakpastian. Namun bagi Muhammad Yani, jalan terjal itulah yang justru mengantarkannya menuju puncak perjalanan spiritual: menunaikan ibadah haji.
Setelah 26 tahun berkecimpung di dunia pers, CEO Ponorogo Pos itu dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci bersama sang istri pada 26 April 2026 melalui Kloter 19 Ponorogo. Sebuah penantian panjang selama 14 tahun, yang dibayar lunas dengan disiplin, kesabaran, dan kerja keras.
Bagi Yani, jurnalistik bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa. Dunia yang ia tekuni sejak muda itu menjadi ruang menguji keberanian sekaligus menyalurkan idealisme.
“Ketika kita menggali kasus dan melakukan investigasi, di situlah adrenalin dan idealisme kita diuji,” ujarnya.
Kariernya ditempa dari bawah. Ia pernah menjadi bagian dari sejumlah media di bawah naungan Jawa Pos Group, seperti Harian Karya Darma, Duta Masyarakat, hingga Radar Madiun. Di masa-masa itu, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti.
Dengan sepeda ontel Federal, Yani menyusuri sudut-sudut Ponorogo demi mengumpulkan berita. Bahkan ketika berhasil membeli motor dari hasil kredit, ujian kembali datang—kendaraan itu hilang dicuri saat ia mengirim berita di Kantor Telkom Ponorogo.
Alih-alih menyerah, ia kembali ke titik awal: mengayuh sepeda ontel.
Kisah Yani menjadi potret nyata bahwa perjuangan tidak selalu lurus. Saat penghasilan hanya Rp100 ribu, ia tak tinggal diam. Selain meliput, ia aktif mencari iklan demi menopang kebutuhan keluarga.
Namun satu prinsip yang tak pernah ia tinggalkan: menyisihkan penghasilan, sekecil apapun.
Disiplin finansial itulah yang menjadi kunci. Dari kebiasaan sederhana menabung, Yani dan istrinya, Ambar Amborowati, akhirnya mendaftarkan diri untuk berhaji pada 2012.
Hari ini, penantian itu berbuah nyata.
Lebih dari sekadar capaian pribadi, kisah Yani menjadi penegas bahwa ibadah haji bukan monopoli kalangan berada. Dari profesi yang sering dianggap “pas-pasan”, dengan ketekunan dan manajemen keuangan yang rapi, impian besar tetap bisa diraih.
Seperti halnya pedagang kecil atau penjual kopi di sudut-sudut Ponorogo yang mampu berangkat haji dari hasil usahanya, Yani membuktikan bahwa jalan menuju Baitullah terbuka bagi siapa saja yang mau berjuang.
Di balik keberhasilannya, Yani tak menampik peran sang istri. Dukungan dan doa Ambar menjadi energi yang menjaga langkahnya tetap teguh, sekaligus menopang eksistensi Ponorogo Pos hingga kini.
Meski kini berada di posisi puncak sebagai pimpinan media dan memiliki usaha bengkel, Yani memilih tetap membumi. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi, mulai dari Ketua RT, penggerak koperasi desa, hingga pengurus Nahdlatul Ulama di tingkat kelurahan.
Baginya, hidup bukan soal pencapaian pribadi semata.
“Setelah pulang haji, saya ingin hidup ini semakin bermanfaat bagi sesama. Amanah apapun harus dijalankan dengan siap,” tuturnya.
Kisah Muhammad Yani adalah pengingat sederhana namun kuat: bahwa kerja keras, kesabaran, dan kedisiplinan bisa mengantarkan siapa saja—bahkan dari profesi yang dianggap sederhana—menuju panggilan suci ke Tanah Suci.(Nang/Red/Humas).

