Warga Dilibatkan, Limbah Dikelola: SPPG Ngasinan 2 Bangun Ekonomi Desa dari Dapur Sendiri
PONOROGO, SINYALPONOROGO – SPPG Ngasinan 2 tak sekadar menjalankan program, tetapi membangun ekosistem desa yang hidup. Dari perekrutan tenaga kerja hingga pengelolaan sisa makanan, semua diarahkan untuk memberdayakan warga sekitar.
Sejak awal berdiri, mitra SPPG Ngasinan 2, Drs. H. Anis Muhtarom, menegaskan komitmennya mengikuti petunjuk pelaksanaan dan teknis (juklak-juknis) dari BGN. Salah satu yang paling terasa adalah kebijakan merekrut tenaga kerja lokal sebagai prioritas utama.
“Lingkungan desa harus dilibatkan. Itu bukan hanya aturan, tapi kebutuhan agar program ini benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujar Anis kepada sinyal Ponorogo Rabu, 8/04/2026.
Enam bulan berjalan, operasional SPPG Ngasinan 2 relatif stabil. Bahkan, pihak Badan Gizi Nasional (BGN) disebut sudah turun langsung meninjau kelengkapan dan pelaksanaan di lapangan. Hasilnya, tidak ditemukan persoalan berarti.
“Alhamdulillah, semua berjalan baik. Dari awal kita niatkan sesuai aturan, dan itu yang kita jaga,” tambahnya.
Tak hanya soal operasional, perhatian juga diberikan pada kualitas menu. Pihak SPPG memastikan makanan yang disajikan sesuai standar, sekaligus menjaga komunikasi dengan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan gesekan sosial.
Yang menarik, pengelolaan sisa makanan justru menjadi titik temu antara program dan kebutuhan warga. Sisa makanan, sayur, maupun buah yang tidak layak distribusi, dimanfaatkan sebagai pakan ternak warga.
Setiap hari, warga tampak antre mengambil sisa tersebut. Bahkan, pengambilan dijadwalkan rapi untuk 14 RT di sekitar lokasi SPPG Ngasinan 2.
“Setiap hari pasti ada yang datang. Ini membantu warga, terutama untuk pakan ternak,” jelas Anis.
Bagi Anis, skema ini menjadi simbiosis yang saling menguntungkan. Program berjalan, lingkungan pun ikut merasakan dampaknya.
“Saya justru terbantu. Warga senang, kita juga senang,” pungkasnya.
Di tengah berbagai sorotan terhadap program serupa di tempat lain, SPPG Ngasinan 2 menunjukkan pendekatan sederhana namun efektif: merangkul warga, menjaga kualitas, dan memastikan tidak ada yang terbuang sia-sia. Sebuah model kecil dari pembangunan berbasis desa yang berkelanjutan.
Penulis : Nanang
