BREAKING NEWS

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan: “Garudo Djoyo Manggolo” Siap Guncang Lomba Reog Nasional 2026


PONOROGO, SINYALPONOROGO
— Di tengah gemuruh kebangkitan kesenian Reog Ponorogo yang kini menembus panggung nasional hingga internasional, muncul satu suara reflektif dari dalam tubuh pelaku seni itu sendiri. Adalah Wisnu HP, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Ponorogo, yang menyuarakan kegelisahan sekaligus menawarkan arah baru melalui langkah konkret: mendirikan Group Reog “Garudo Djoyo Manggolo”.

Lebih dari tiga dekade hidup bersama Reog sejak usia 10 tahun, Wisnu bukan sekadar pengamat. Ia adalah bagian dari denyut nadi kesenian itu sendiri. Baginya, pengakuan dunia terhadap Reog—termasuk momentum pengakuan internasional pada 2024—adalah kebanggaan besar. Namun di balik itu, ia menangkap gejala yang menurutnya perlu disikapi dengan serius.

“Pertunjukan Reog hari ini memang semakin megah, spektakuler, bahkan memukau. Tapi di sisi lain, tanpa sadar rasa dan ruhnya mulai memudar,” ungkap Wisnu kepada media Senin, 25/5/2026.

Antara Spektakel dan Substansi

Fenomena modernisasi dalam pertunjukan Reog tidak bisa dihindari. Koreografi semakin dinamis, tata panggung semakin canggih, dan eksplorasi artistik semakin berani. Namun dalam pandangan Wisnu, perkembangan ini terkadang melampaui akar cerita yang menjadi sumber utama: versi Bantarangin.

Kisah klasik tentang Raja Klono Sewandono, Dewi Songgolangit, Bujangganong, dan Singobarong kini mulai mengalami pergeseran tafsir di atas panggung. Unsur penting seperti narasi “144 kuda kembar” nyaris hilang, digantikan oleh dominasi visual jathil dan warok yang lebih representatif secara pertunjukan, namun perlahan menjauh dari konstruksi cerita awal.

“Saya tidak menyalahkan siapa pun. Seni memang hidup dan berkembang. Tapi sebagai pelaku, saya merasa perlu ada upaya untuk mengingatkan kembali—apakah kita masih berpijak pada ruh dan sumber inspirasinya?” tambahnya.

“Turun Gunung”: Lahirnya Garudo Djoyo Manggolo

Kegelisahan itu tidak berhenti pada wacana. Bersama Sekolah Rakyat Ponorogo (SRP), Wisnu mengambil langkah nyata dengan membentuk Group Reog Garudo Djoyo Manggolo. Sebuah ruang kreatif sekaligus reflektif untuk “meramu ulang ingatan” tentang Reog.

Grup ini bukan sekadar peserta lomba. Ia adalah gerakan kultural—sebuah upaya menyusun ulang rasa, menghidupkan kembali napas cerita, serta menerjemahkan ulang filosofi Reog agar tetap selaras dengan akar tradisinya.

Pendekatan yang dibangun tidak menolak modernitas, melainkan menyeimbangkannya dengan kedalaman makna. Garudo Djoyo Manggolo mencoba menghadirkan kembali struktur naratif, simbolisme, serta nilai-nilai filosofis yang selama ini menjadi fondasi Reog Ponorogo.

Filosofi Garuda: Terbang Tinggi, Tak Lupa Asal

Nama “Garudo Djoyo Manggolo” bukan tanpa makna. Ia mengandung filosofi kuat:

“Garudo mumbul duwur miber ngideri jagad, nanging ora ilang jatidirine. Cakare nyengkram kuat pondasi asale.”

Garuda boleh terbang tinggi menjelajah dunia, namun tidak pernah kehilangan jati dirinya. Filosofi ini menjadi semangat utama kelompok tersebut dalam berkarya: inovatif tanpa tercerabut dari akar budaya.

Menuju Lomba Reog Nasional 2026

Partisipasi Garudo Djoyo Manggolo dalam Lomba Reog Nasional Ponorogo 2026 menjadi panggung pembuktian sekaligus pernyataan sikap. Bahwa di tengah arus modernisasi, masih ada ruang untuk kembali menengok asal-usul—bukan untuk mundur, tetapi untuk memperkuat pijakan menuju masa depan.

Langkah Wisnu HP ini bisa dibaca sebagai refleksi sekaligus kritik konstruktif bagi dunia kesenian Reog hari ini. Bahwa kemegahan pertunjukan tidak boleh mengaburkan makna. Dan bahwa di balik setiap dentuman kendang dan kibasan dadak merak, terdapat cerita, filosofi, dan identitas yang harus tetap dijaga.

Publik kini menunggu: bagaimana Garudo Djoyo Manggolo akan tampil. Apakah ia mampu menjawab kegelisahan itu di atas panggung?(Nang/Humas).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar