Tahta Kosong FNRP XXXI/2026 Bikin Persaingan Memanas, Regenerasi Reog Kian Terlihat
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI/2026 dipastikan berlangsung lebih kompetitif. Absennya juara bertahan, Reog Brawijaya, membuka peluang besar bagi peserta lain untuk merebut posisi puncak.
“Kosongnya satu posisi ini justru membuat persaingan semakin terbuka. Semua peserta punya peluang yang sama untuk tampil sebagai yang terbaik,” ujar Judha Kepala Disbudparpora dalam acara Technical Meeting FNRP di padepokan Reog Rabu, 3/6/2026.
Meski demikian, peta kekuatan peserta dinilai tidak banyak berubah. Kelompok-kelompok yang masuk 10 besar tahun lalu diprediksi tetap menjadi kekuatan utama dalam festival tahun ini.
“Kecenderungannya, penyaji terbaik banyak berasal dari perguruan tinggi dan SMA. Ini menunjukkan bahwa regenerasi Reog berjalan dengan baik,” jelas Judha.
Ia mencontohkan sejumlah grup yang selama ini konsisten tampil impresif, seperti Gajah Manggolo dari SMAN 1 Ponorogo, Taruno Suryo dari SMA Muhammadiyah Ponorogo, hingga Reog Watoe Dakon dari UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.
Fenomena tersebut, menurut Judha, tidak lepas dari peran FNRP yang selalu digelar bersamaan dengan Festival Reog Remaja (FRR).
“FNRP dan FRR adalah bagian dari upaya pelestarian Reog Ponorogo yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Ini bukan sekadar festival, tapi ruang pembinaan generasi muda,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengakuan internasional tersebut membawa tanggung jawab besar bagi semua pihak.
“Kepada siapa lagi kita menitipkan keberlangsungan seni adiluhung ini kalau tidak kepada generasi muda,” imbuhnya.
Selain peserta lokal, kehadiran kontingen dari luar daerah juga menjadi daya tarik tersendiri. Tahun ini, peserta datang dari Surabaya, Wonogiri, Nganjuk, Surakarta, hingga Palembang. Bahkan, Pawargo Yogyakarta dan DKI Jakarta kembali ambil bagian.
“Dukungan dari berbagai daerah inilah yang membuat FNRP terus berkembang dan masuk dalam Karisma Event Nusantara selama lima tahun berturut-turut,” kata Judha.
Sementara itu, tim perumus juknis, Marji, menegaskan bahwa seluruh peserta wajib menampilkan Reog Ponorogo versi Bantarangin dengan standar yang telah ditentukan.
“Minimal 26 penari, durasi maksimal 20 menit, dan seluruh elemen harus sesuai karakter. Khusus Pujangganong, topeng harus berbibir lengkap dan tidak bertaring,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa penilaian dilakukan secara profesional dengan tiga aspek utama.
“Kami menilai kepenarian, kreativitas garap, serta musik dan harmonisasi. Semua unsur harus menyatu, mulai dari Warok, Jathil, Pujangganong, Klono Sewandono hingga Singobarong,” terang Marji.
FNRP XXXI akan digelar pada 11–14 Juli 2026 di Alun-Alun Ponorogo, bersamaan dengan FRR XXII pada 7–11 Juli.
Dengan satu tahta juara yang kosong, festival tahun ini diprediksi menjadi salah satu yang paling menarik dalam sejarah penyelenggaraan.
“Ini bukan hanya soal siapa yang menang, tetapi bagaimana Reog terus hidup dan berkembang di tangan generasi penerus,” pungkas Judha.(Nang/Kominfo).
