BREAKING NEWS

Ambulans Jenazah di Depan Masjid Sawoo Picu Pro-Kontra, Warga Terbelah, Solusi Masih Mengambang

Keberadaan mobil ambulan pengangkut jenasah jadi polemik di tengah masyarakat 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Polemik keberadaan ambulans pengangkut jenazah yang diparkir di pelataran Masjid Darul Hikmah, Dukuh Ngemplak, Desa Sawoo, belum menemukan titik temu. Di tengah perdebatan yang kian mengemuka, warga terbelah antara yang menerima dan yang menginginkan relokasi.

Sebagian warga mengaku tidak mempermasalahkan keberadaan ambulans tersebut. Mereka menilai kendaraan itu justru memiliki fungsi sosial penting bagi masyarakat. Namun, di sisi lain, tidak sedikit warga yang merasa keberadaannya kurang tepat jika ditempatkan di area terbuka, tepat di depan masjid.

Alasannya beragam. Mulai dari faktor psikologis—terutama bagi anak-anak—hingga pertimbangan estetika dan kelaziman penataan ruang.

“Bukan menolak ambulansnya. Itu sangat bermanfaat untuk warga. Tapi kalau bisa ditempatkan di lokasi yang lebih tertutup, tidak langsung terlihat di depan masjid,” ujar salah satu warga, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, persoalan ini tidak sesederhana yang terlihat di permukaan. Ia menilai, penanganan awal yang dilakukan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di lapangan.

“Yang ditanya hanya warga yang tidak keberatan. Padahal ada juga yang sebenarnya merasa terganggu,” imbuhnya.

Warga tersebut juga menduga munculnya narasi yang berkembang di tengah masyarakat seolah-olah pihak yang keberatan dianggap menolak keberadaan ambulans secara keseluruhan. Padahal, yang dipersoalkan bukan fungsi, melainkan penempatan.

“Kita tidak pernah menolak bantuan ambulans. Yang kami harapkan hanya penataan tempatnya saja,” tegasnya.

Di sisi lain, hasil penelusuran pihak kecamatan menunjukkan gambaran berbeda. Dalam laporan kepada Plt. Bupati Ponorogo, disebutkan bahwa sejumlah warga yang diwawancarai menyatakan tidak terganggu dengan keberadaan ambulans di lokasi tersebut.

Pihak kecamatan juga menyampaikan bahwa akan dilakukan musyawarah warga secara menyeluruh, melibatkan kepala desa dan masyarakat dukuh, guna mencari titik temu. Bahkan disebutkan pula bahwa ambulans tersebut tidak memiliki penanda spesifik sebagai kendaraan jenazah, serta lokasi masjid kerap digunakan sebagai tempat singgah para pengguna jalan.

Perbedaan persepsi ini memperlihatkan adanya celah komunikasi di tingkat akar rumput. Di satu sisi, ada klaim bahwa polemik yang muncul tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan. Namun di sisi lain, suara keberatan warga tetap muncul dan terus bergulir.

Menanggapi hal tersebut, Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyatakan akan mendorong dilakukannya musyawarah terbuka agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan persoalan baru.

“Nanti kita minta lurah mengumpulkan warga untuk diskusi bersama. Karena kalau dipindah tapi lokasinya jauh, jangan sampai nanti muncul keluhan baru lagi,” ujarnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan tidak semata soal keberadaan ambulans, melainkan bagaimana ruang publik—terutama di sekitar tempat ibadah—dikelola secara sensitif terhadap beragam persepsi masyarakat.

Di satu sisi, ambulans adalah simbol layanan sosial. Namun di sisi lain, bagi sebagian warga, kehadirannya di ruang terbuka yang dekat dengan aktivitas ibadah memunculkan rasa tidak nyaman.

Kini, semua bergantung pada proses musyawarah yang direncanakan. Apakah akan menghasilkan titik temu yang adil bagi semua pihak, atau justru mempertegas garis perbedaan di tengah masyarakat?

Yang jelas, warga berharap solusi yang diambil tidak lagi setengah jalan—melainkan benar-benar menjawab keresahan tanpa mengabaikan kepentingan bersama.(Nang/Red).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar