Grebeg Tutup Suro 2026 di Bantarangin: Gajah-Gajahan Hidupkan Tradisi, Dongkrak Ekonomi Warga

Seni Gajah-gajahan di Monumen Bantarangin Kauman sedot animo warga masyarakat
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Suasana Monumen Bantarangin, Kecamatan Kauman, Ponorogo, mendadak semarak pada Rabu (15/6/2026). Iringan gamelan yang bertalu-talu mengiringi kemunculan seni tradisional gajah-gajahan dari Desa Karangwaluh, Kecamatan Sampung. Atraksi budaya ini menjadi bagian dari rangkaian Grebeg Tutup Suro 2026 yang sukses menyedot perhatian masyarakat.
Sejak siang hari, pelataran monumen yang semula lengang perlahan dipadati warga. Bahkan, terik matahari tak lagi menjadi penghalang. Begitu alunan musik khas gajah-gajahan dan suara biduan mulai menggema, masyarakat berbondong-bondong mendekat, memenuhi area pertunjukan dengan antusias.
![]() |
| Dari kiri ke kanan Camat Sampung M Luqman Wakhidi dsn Camat Kauman Toni Khristiawan beserta Andre Sekcam Sampung hadir dalam acara seni gajah2an di monumen Bantarangin |
Camat Sampung, M. Luqman Wakhidi, S.STP, menyebut partisipasi kelompok seni dari Desa Karangwaluh sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya dalam perhelatan Grebeg Tutup Suro.
“Ini bagian dari upaya bersama menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Camat Kauman Toni Khristiawan, S.STP., M.Si., beserta jajaran, yang turut memberikan apresiasi atas tingginya partisipasi masyarakat. Menurut Toni, pertunjukan gajah-gajahan bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan.
“Alhamdulillah, penonton sangat banyak. UMKM juga ikut bergerak. Ini membantu masyarakat dalam menggerakkan roda perekonomian lokal,” kata Toni saat dikonfirmasi.
Di sepanjang area monumen, deretan pedagang makanan dan minuman tampak kebanjiran pembeli. Momentum budaya ini menjadi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk meraup keuntungan sekaligus memperkenalkan produk lokal kepada pengunjung.
![]() |
| Geliat UMKM di Monumen Bantarangin Kauman dalam acara grebeg tutup suro 2026 |
Lebih jauh, Toni menegaskan bahwa kegiatan seperti ini merupakan wujud komitmen pemerintah kecamatan dalam memelihara budaya daerah. Selain itu, juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan membangun sinergi antarwarga.
“Pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat identitas daerah. Ini penting untuk meningkatkan daya saing Ponorogo ke depan,” imbuhnya.
Grebeg Tutup Suro di Monumen Bantarangin sendiri menjadi salah satu agenda budaya yang kian diminati. Kombinasi antara nilai historis, pertunjukan seni, dan keterlibatan masyarakat menjadikan acara ini tidak sekadar seremoni, melainkan ruang hidup bagi budaya lokal.
Harapannya, pada penyelenggaraan tahun mendatang, kegiatan ini dapat dikemas lebih variatif dengan melibatkan lebih banyak pelaku seni dan UMKM. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi dan penguat jati diri daerah.(Nang/Red).


