BREAKING NEWS

ICMI Ponorogo Tancap Gas: Gandeng Pemkab, Siapkan Lompatan Besar UMKM Berbasis Riset dan Inovasi

Pengukuhan Orda ICMI Kabupaten Ponorogo siap berkolaborasi dan sinergi dengan pemerintah kabupaten Ponorogo 

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Ada energi baru yang terasa di Pendopo Kabupaten Ponorogo, Ahad (19/7/2026). Bukan sekadar seremoni pelantikan organisasi, tetapi sebuah titik awal lahirnya kolaborasi strategis yang berpotensi mengubah wajah ekonomi lokal. Organisasi Daerah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ORDA ICMI) Ponorogo resmi dikukuhkan—dan langsung “tancap gas”.


Tak menunggu lama, momentum pelantikan itu ditandai dengan langkah konkret: penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara ORDA ICMI Ponorogo dan Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Fokusnya jelas—membangun ekosistem UMKM berkelanjutan berbasis riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Di tengah tekanan ekonomi global dan tantangan daya saing daerah, UMKM tetap menjadi tulang punggung ekonomi Ponorogo. Namun, selama ini banyak pelaku UMKM berjalan sendiri—minim pendampingan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di sinilah ICMI masuk.

Ketua ORDA ICMI Ponorogo, Assoc. Prof. Dr. H. Muhamad Fajar Pramono, M.Si., menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak ingin berhenti pada diskursus intelektual semata. Ia ingin para akademisi benar-benar “turun gunung”.

“ICMI harus hadir sebagai problem solver. Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas atau jurnal. Ia harus hidup di tengah masyarakat, menjawab persoalan nyata—terutama UMKM,” ujarnya.

Fajar menempatkan ICMI dalam garis sejarah panjang peran cendekiawan dalam peradaban Islam—dari Al-Hasan al-Bashri hingga Al-Khawarizmi. Baginya, para ilmuwan bukan sekadar pemikir, tetapi penggerak perubahan.


Semangat itu pula yang ia kaitkan dengan warisan pemikiran Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie—figur yang berhasil menjembatani ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai kebangsaan.

“ICMI ingin melahirkan ilmuwan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berdampak,” tegasnya.

Komposisi kepengurusan ORDA ICMI Ponorogo periode 2026–2031 mencerminkan semangat tersebut. Diisi oleh akademisi lintas kampus—mulai dari UNIDA Gontor, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari, hingga Universitas Muhammadiyah Ponorogo—serta para profesional dari berbagai bidang strategis.

Assoc Prof. Dr. H. Muhammad Fajar Pramono, M.Si Ketua ORDA ICMI Kabupaten Ponorogo 

Tak berhenti pada struktur organisasi, ICMI juga membentuk lima divisi utama yang menyasar sektor-sektor krusial, mulai dari pendidikan dan riset, politik dan hukum, hingga ekonomi, UMKM, serta pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Plt. Bupati Ponorogo, Hj. Lisdyarita, S.H., melihat kehadiran ICMI sebagai mitra strategis yang selama ini dibutuhkan pemerintah daerah.

“Pembangunan tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Harus ada kolaborasi dengan akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. ICMI punya posisi penting di situ,” ujarnya.

Kesamaan visi antara Pemkab dan ICMI menjadi fondasi kuat kerja sama ini. Melalui MoU yang ditandatangani, kedua pihak sepakat mendorong pengembangan riset terapan, inovasi teknologi, penguatan ekonomi desa, serta peningkatan kualitas SDM.

Artinya, UMKM tidak lagi sekadar didorong untuk bertahan, tetapi dipersiapkan untuk naik kelas—dengan dukungan ilmu pengetahuan, jejaring, dan kebijakan yang terintegrasi.

Dukungan juga datang dari tingkat provinsi. Perwakilan ORWIL ICMI Jawa Timur, Dr. Pitono Nugroho, menyebut langkah cepat ICMI Ponorogo sebagai sesuatu yang progresif.

“Ini bukan hanya pelantikan, tapi langsung aksi. Model seperti ini sangat layak dijadikan percontohan di Jawa Timur,” katanya.

Pernyataan itu bukan sekadar apresiasi. Ia sekaligus menjadi sinyal bahwa apa yang dimulai di Ponorogo berpotensi direplikasi di daerah lain.

Dengan kolaborasi ini, Ponorogo sedang menguji sebuah formula: mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kekuatan ekonomi rakyat dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Jika berhasil, bukan tidak mungkin Ponorogo bukan hanya dikenal sebagai kota budaya dan Reog, tetapi juga sebagai pusat pengembangan UMKM berbasis riset di Jawa Timur. Dan semua itu—baru saja dimulai.(Nang/Humas).


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar