Panca Cinta Jadi Fondasi, Mata Muda MAN 2 Ponorogo Fokuskan Moderasi Beragama

H. Moh Thohari
Plt Kepala Kemenag Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Suasana aula MAN 2 Ponorogo pagi itu terasa berbeda. Ratusan siswa baru duduk rapi, wajah-wajah penuh harap memandang ke depan. Di tangan mereka, bukan hanya buku catatan, tetapi juga semangat baru untuk memulai perjalanan sebagai bagian dari keluarga besar madrasah.
Melalui kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (Mata Muda) yang digelar pada 13–16 Juli 2026, MAN 2 Ponorogo menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar pengenalan sekolah. Di balik rangkaian kegiatan itu, terselip misi besar: menanamkan nilai Panca Cinta sebagai fondasi kehidupan siswa.
Ketika Plt. Kepala Kemenag Ponorogo, H. Moh. Thohari, berdiri menyampaikan materi, suasana menjadi hening. Pesannya sederhana, namun dalam maknanya.
“Cinta menyatukan, moderasi beragama menguatkan,” ucapnya, menegaskan bahwa kehidupan di tengah keberagaman membutuhkan sikap yang seimbang dan penuh kasih pesannya Rabu, 15/7/2026.
Di tengah arus informasi yang begitu cepat, generasi muda dihadapkan pada berbagai tantangan—dari krisis adab hingga lunturnya kepedulian sosial. Karena itu, Mata Muda hadir bukan hanya untuk mengenalkan lingkungan fisik sekolah, tetapi juga untuk membangun “kompas batin” para siswa.
Kompas itu bernama Panca Cinta
Nilai-nilai tersebut mengajarkan siswa untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya sebagai sumber kehidupan, mencintai ilmu sebagai jalan kemajuan, mencintai diri sendiri dan sesama sebagai wujud kemanusiaan, mencintai lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab, serta mencintai tanah air sebagai identitas kebangsaan.
Kepala MAN 2 Ponorogo, Agung Drajatmono, M.Pd., memandang bahwa nilai-nilai ini bukan sekadar konsep, melainkan harus hidup dalam keseharian siswa.
Ia berharap, melalui Mata Muda, siswa MAN 2 Ponorogo tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai diri sendiri dan teman-temannya, mencintai ilmu, lingkungan, serta tanah air.
“Jika nilai-nilai ini tertanam kuat, maka kita tidak hanya membentuk siswa yang cerdas, tetapi juga manusia yang utuh,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia optimistis bahwa fondasi cinta tersebut akan membawa madrasah menuju cita-cita besar: menghadirkan pendidikan yang maju, bermutu, dan mampu bersaing di tingkat dunia.
Di akhir kegiatan, yang tersisa bukan hanya kenangan hari pertama sekolah. Lebih dari itu, para siswa membawa pulang sebuah pesan sederhana namun kuat—bahwa dari cinta, lahir sikap saling menghargai; dari moderasi, tumbuh kekuatan untuk menjaga harmoni.
Dan dari keduanya, masa depan yang lebih baik mulai dibangun, sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari MAN 2 Ponorogo.(Nang/Red).
