BREAKING NEWS

Remaja Tak Lagi Canggung ke Puskesmas, KALCER Jadi Ruang Aman Baru di Ponorogo

Gambar hanya ilustrasi saja...

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Pemandangan berbeda mulai terlihat di Puskesmas Ponorogo Selatan (Ponsel). Jika sebelumnya identik dengan pasien berobat, kini fasilitas kesehatan di Jalan Pacar itu justru makin akrab dengan kehadiran remaja.

Perubahan ini tak datang tiba-tiba. Sejak dua tahun terakhir, Puskesmas Ponsel mengembangkan layanan khusus bertajuk Konseling, Aksi, Literasi, Curhat, dan Edukasi Remaja (KALCER)—sebuah pendekatan baru yang menempatkan remaja sebagai subjek, bukan sekadar objek layanan kesehatan.

Kepala Puskesmas Ponsel, dr. Ani Damayanti, mengatakan, program ini lahir dari kegelisahan atas rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan remaja yang sebelumnya sudah tersedia.

“Selama ini layanan seperti PKPR, UKS, hingga posyandu remaja sebenarnya sudah ada. Tapi belum optimal dimanfaatkan. Padahal, persoalan kesehatan remaja—baik fisik maupun mental—semakin kompleks,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).

Dari evaluasi itu, muncul kesadaran bahwa pendekatan lama tak lagi relevan. Remaja, kata Ani, membutuhkan ruang yang lebih terbuka, aman, dan tidak menghakimi. Dari situlah konsep KALCER dirancang.

Alih-alih menunggu remaja datang, layanan ini justru aktif menjemput bola. Kegiatan konseling dan edukasi tak hanya berlangsung di dalam puskesmas, tetapi juga menjangkau sekolah, madrasah, pondok pesantren, hingga komunitas masyarakat.

Pendekatannya pun dibuat lebih cair. Remaja bisa berkonsultasi, curhat, hingga mendapatkan edukasi kesehatan dengan suasana yang nyaman dan menjaga kerahasiaan.

“Kami ingin mengubah stigma bahwa puskesmas itu tempat orang sakit. Di sini, remaja juga bisa belajar, berbagi cerita, dan mendapatkan pendampingan,” jelasnya.

KALCER mengintegrasikan berbagai aspek layanan kesehatan dalam satu sistem. Mulai dari skrining kesehatan, konseling, edukasi, hingga pendampingan berkelanjutan jika ditemukan masalah kesehatan.

Tak hanya itu, program ini juga mendorong keterlibatan aktif remaja melalui berbagai kegiatan seperti posyandu remaja, Saka Bhakti Husada, aksi bergizi, hingga kampanye kesehatan di media sosial.

“Remaja tidak hanya jadi penerima layanan, tapi juga kami dorong menjadi pelopor gaya hidup sehat di lingkungannya,” imbuh Ani.

Hasilnya mulai terasa. Kunjungan remaja ke puskesmas meningkat signifikan. Jangkauan skrining kesehatan di sekolah pun semakin luas. Deteksi dini berbagai risiko kesehatan, termasuk masalah mental, bisa dilakukan lebih cepat.

Kolaborasi juga menjadi kunci. Puskesmas Ponsel menggandeng sekolah, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga orang tua untuk memperkuat ekosistem kesehatan remaja.

Menurut Ani, keberhasilan program ini bukan hanya soal angka kunjungan, tetapi perubahan cara pandang remaja terhadap layanan kesehatan.

“Sekarang mereka lebih berani datang, lebih terbuka untuk berkonsultasi, dan lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan,” katanya.

Ke depan, KALCER diharapkan menjadi model pelayanan kesehatan remaja yang bisa direplikasi. Bukan hanya di Ponorogo, tetapi juga di daerah lain.

Dengan pendekatan yang lebih humanis dan adaptif, Puskesmas Ponsel menaruh harapan besar: melahirkan generasi muda yang sehat, mandiri, dan siap bersaing.

“Ini bagian dari investasi menuju Indonesia Emas 2045. Remaja hari ini adalah masa depan bangsa,” pungkasnya.(Nang/Kominfo).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar