Rp25 Juta Koin Ditebar Saat Maulid Nabi di Coper Ponorogo, Ada Pesan Leluhur di Baliknya
![]() |
| Moment paling ditunggu, tebar uang koint di desa coper Jetis Ponorogo sebagai tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW |
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Coper, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Selasa (25/8/2026), berlangsung dengan suasana berbeda. Di kompleks Masjid Al Ishaq, warga kembali menghidupkan tradisi leluhur berupa tebar uang koin yang nilainya mencapai sekitar Rp25 juta.
Tradisi tersebut bukan sekadar menjadi tontonan atau ajang berebut uang. Di baliknya tersimpan pesan dari para leluhur tentang bagaimana mengajak anak-anak mengenal masjid, salat dan kehidupan berjamaah.
![]() |
| Kirap ambeng Naluri di desa Coper Jetis Ponorogo |
Peringatan Maulid Nabi kali ini sekaligus menjadi rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan bersih Desa Coper. Sejak pagi, warga mengikuti pembacaan shalawat yang dilanjutkan srokal Maulid dan tradisi tebar koin.
Kepala Desa Coper, Damanhuri, mengatakan tradisi tersebut merupakan agenda rutin yang diwariskan secara turun-temurun.
“Peringatan Maulid Nabi seperti sore hari ini sudah menjadi agenda rutin Desa Coper. Dari pagi kami bersama-sama membaca shalawat dan dilanjutkan srokal Maulid dengan tebar uang koin,” ujar Damanhuri.
Menurut Damanhuri, tradisi tebar koin sudah dilakukan sejak zaman para sesepuh Desa Coper. Dahulu, uang koin ditebar di serambi masjid karena jumlah warga yang mengikuti tradisi belum sebanyak sekarang.
Kini, karena jumlah masyarakat yang hadir semakin banyak, lokasi tebar koin dipindahkan ke halaman masjid agar lebih leluasa dan tidak terjadi penumpukan di dalam serambi.
Yang menarik, tradisi itu memiliki filosofi tersendiri.
Damanhuri menjelaskan, dahulu anak-anak diajak ke masjid dengan cara sederhana. Mereka diberi tahu bahwa ada uang koin di masjid. Setelah datang dan mengambil koin, anak-anak kemudian diarahkan untuk melaksanakan salat dan berjamaah.
“Dulu kalau tidak diiming-imingi, ‘itu ada uang koin di situ’, begitu diambil uang koin kemudian diajari, ‘kamu harus salat, harus salat berjamaah’. Akhirnya sampai sekarang dibudayakan dan dilestarikan,” jelasnya.
Sekitar Rp25 juta uang koin pecahan Rp500 disebut disiapkan untuk tradisi tersebut. Begitu koin ditebar, warga yang sudah menunggu di halaman masjid langsung berebut mengambilnya.
Namun tebar koin hanyalah satu bagian dari rangkaian tradisi Maulid Nabi di Coper.
Pada waktu yang sama, masyarakat juga membawa ambeng naluri atau sajian selamatan yang dalam istilah sekarang menyerupai tumpeng. Jumlahnya mencapai sekitar 1.200 ambeng, dengan setiap ambeng dilengkapi satu ingkung ayam utuh.
Ambeng tersebut kemudian diarak mengelilingi kompleks Masjid Al Ishaq. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan masyarakat Desa Coper.
Tidak hanya itu, gunungan berisi hasil pertanian desa juga dibuat dan kemudian diperebutkan warga. Suasana semakin meriah karena kegiatan tersebut dirangkaikan dengan hiburan panjat pinang dalam rangka HUT ke-81 RI.
“Ambeng naluri itu memang sampai sekarang masyarakat Coper semua membuat ambeng. Itu sudah menjadi naluri dan budaya dari mbah-mbah kita dulu,” kata Damanhuri.
Kompleks Masjid Al Ishaq pun dipenuhi warga dari berbagai kalangan. Tradisi keagamaan berpadu dengan budaya lokal dan perayaan kemerdekaan.
Sejumlah unsur Forkopimca Jetis turut hadir dalam kegiatan tersebut. Tampak Camat Jetis Yusup, Kapolsek, Danramil serta anggota DPRD Kabupaten Ponorogo, Kang Mas Qomarudin dari Fraksi Partai Golkar Dapil II yang merupakan warga Desa Coper.
Masjid Al Ishaq sendiri memiliki kaitan sejarah dengan lingkungan pesantren Tegalsari. Masjid tersebut dikenal masyarakat sebagai bagian dari warisan keagamaan yang berkaitan dengan keluarga KH Kasan Besari Tegalsari.
Bagi masyarakat Coper, tradisi Maulid Nabi bukan hanya agenda tahunan. Di dalamnya terdapat upaya menjaga warisan budaya sekaligus menyampaikan nilai-nilai keagamaan kepada generasi berikutnya.
Tebaran koin mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun pesan yang hendak diwariskan jauh lebih panjang: mengenalkan anak-anak kepada masjid, mengajarkan salat berjamaah dan menjaga kebersamaan masyarakat.
Di tengah zaman yang terus berubah, warga Coper memilih cara mereka sendiri untuk menjaga warisan leluhur—melalui Maulid Nabi, ambeng naluri, gunungan hasil bumi dan tebaran koin yang setiap tahun kembali menghidupkan halaman Masjid Al Ishaq.(Nang/Red).



