Proyek Geothermal Masuk Ngebel! 4 Hektar Lahan Dibebaskan, Ponorogo Siap Jadi Lumbung Energi Baru

PONOROGO, SINYALPONOROGO – Kawasan pegunungan Ngebel yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata alam, kini bersiap memasuki babak baru sebagai pusat pengembangan energi bersih nasional. Pemerintah menetapkan Desa Gondowido, Kecamatan Ngebel, sebagai lokasi proyek strategis nasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) atau geothermal.
Dalam dua bulan terakhir, geliat proyek mulai tampak nyata di lapangan. Aktivitas pembukaan akses jalan, pemerataan lahan, hingga mobilisasi alat berat menjadi tanda bahwa proyek ini telah memasuki tahap awal persiapan.
Sedikitnya empat hektare lahan telah dibebaskan dari total 47 bidang milik warga. Proses pembebasan dilakukan dengan skema “ganti untung”, yang dinilai memberi nilai lebih bagi masyarakat terdampak sekaligus mempercepat tahapan proyek.
Kepala Desa Gondowido, Bhaskara Widya Mandala, mengungkapkan bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan pengembang dari Bakrie Group. Fokus utama koordinasi adalah memastikan keterlibatan tenaga kerja lokal serta meminimalkan dampak sosial yang mungkin muncul.
“Kami dorong agar warga sekitar bisa dilibatkan dalam pekerjaan proyek. Selain itu, kami juga membahas kompensasi jika ada dampak seperti kebisingan saat pengeboran nanti,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, pemerintah desa juga menaruh harapan besar terhadap manfaat jangka panjang proyek ini, termasuk peluang adanya keringanan biaya listrik bagi masyarakat sekitar setelah PLTPB beroperasi.
Rencananya, proyek geothermal ini akan memasuki tahap penting pada akhir tahun 2026, yakni groundbreaking pengeboran panas bumi. Momen tersebut diperkirakan akan dihadiri tokoh nasional sebagai penanda dimulainya fase eksplorasi serius.
Secara lebih luas, PLTPB Gondowido diproyeksikan mampu menyuplai kebutuhan listrik hingga lima kabupaten di sekitar Ponorogo. Jika terealisasi, proyek ini akan menjadi salah satu penopang utama energi bersih di wilayah selatan Jawa Timur.
Menariknya, proyek ini juga membawa harapan baru setelah rencana serupa di kawasan Ngebel pada sekitar tahun 2016 gagal terealisasi. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting agar pengembangan kali ini berjalan lebih matang dan berkelanjutan.
Di tingkat masyarakat, respons yang muncul relatif positif. Warga, terutama yang lahannya terdampak, disebut menerima dengan sukarela proses pembebasan lahan. Mereka menilai proyek ini sebagai bagian dari kepentingan nasional yang lebih besar.
“Warga memahami bahwa ini untuk kebutuhan energi nasional ke depan. Apalagi kalau nantinya benar-benar bisa menambah pasokan listrik,” tambah Bhaskara.
Masuknya proyek geothermal ke Gondowido bukan sekadar pembangunan infrastruktur energi, melainkan simbol perubahan arah pembangunan menuju pemanfaatan energi terbarukan. Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan isu lingkungan, langkah ini menjadi bagian penting dari upaya menuju kemandirian energi nasional.
Kini, harapan itu mulai ditanam dari lereng Ngebel. Dari lahan yang diratakan, jalan yang diperlebar, hingga mimpi besar menjadikan Ponorogo sebagai salah satu lumbung energi baru di Indonesia.(Nang/Red).