“Bukan Sekadar Penghargaan! Pasien UGD RSUD Bantarangin Ponorogo Melonjak 2 Kali Lipat, BOR Tembus 70 Persen”.
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Penghargaan Trusted Hospital 2026 yang diraih RSUD Bantarangin Ponorogo datang di tengah perubahan besar dalam aktivitas pelayanan rumah sakit. Salah satu indikatornya terlihat dari jumlah pasien Unit Gawat Darurat (UGD) yang meningkat hampir dua kali lipat dalam setahun.
Pada 2025, kunjungan UGD RSUD Bantarangin berada di kisaran 300 hingga 400 pasien per bulan. Memasuki 2026, angka tersebut melonjak menjadi sekitar 700 hingga 800 pasien setiap bulan.
Kenaikan itu menjadi salah satu gambaran meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan RSUD Bantarangin.
Direktur RSUD Bantarangin, drg. Enggar Tri Adji Sambodo, mengatakan pertumbuhan kunjungan pasien juga diikuti tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) yang konsisten berada di atas 70 persen.
“Kalau 2025 kunjungan UGD sekitar 300 sampai 400 pasien per bulan, tahun 2026 meningkat menjadi sekitar 700 sampai 800 pasien per bulan,” ujar Enggar, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, peningkatan tersebut tidak terlepas dari penguatan layanan spesialis dan fasilitas medis yang terus dikembangkan. Saat ini RSUD Bantarangin telah memiliki delapan dokter spesialis.
Mereka menangani bidang kebidanan dan kandungan, anak, penyakit dalam, jantung, radiologi, anestesi, bedah hingga patologi klinik.
Dari sisi fasilitas, rumah sakit juga memperkuat layanan penunjang. Di antaranya USG kandungan dan jantung serta dua kamar operasi yang dilengkapi teknologi Modular Operating Theatre (MOT).
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya rumah sakit meningkatkan kemampuan menangani tindakan operasi mayor dengan dukungan standar keamanan yang lebih baik.
Trusted Hospital Bukan Sekadar Piagam
Di tengah peningkatan kunjungan pasien tersebut, RSUD Bantarangin menerima penghargaan Trusted Hospital 2026 dari Jawa Pos Radar Madiun Award, Selasa (29/9/2026).
Penghargaan itu diberikan setelah proses verifikasi lapangan oleh sejumlah kurator yang dilakukan sepanjang 2025 hingga 2026.
Bagi manajemen RSUD Bantarangin, penghargaan tersebut menjadi cermin dari proses pembenahan layanan yang terus berjalan. Namun, tantangan berikutnya justru bagaimana menjaga kepercayaan tersebut ketika jumlah pasien terus bertambah.
Salah satu layanan yang diperkuat adalah operasi caesar dengan metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS). Layanan ini tersedia bagi peserta BPJS Kesehatan kelas 1, 2 maupun 3 tanpa biaya tambahan.
Untuk kasus kegawatdaruratan, RSUD Bantarangin juga menerapkan prinsip pelayanan terbuka. Pasien yang datang ke UGD akan mendapatkan pemeriksaan dan stabilisasi terlebih dahulu. Rujukan baru dilakukan apabila pasien membutuhkan layanan spesifik yang belum tersedia di rumah sakit.
2027 Bidik Tambah Tempat Tidur
Meningkatnya jumlah pasien membuat kebutuhan kapasitas menjadi perhatian manajemen.
Untuk 2027, RSUD Bantarangin menyiapkan sejumlah pengembangan, termasuk penambahan tempat tidur rawat inap dan pengembangan klinik rehabilitasi jantung, terutama bagi pasien setelah menjalani pemasangan ring.
Pengelolaan tempat tidur juga akan dibuat lebih dinamis menyesuaikan kebutuhan pasien.
“Kami terus melengkapi fasilitas dan meningkatkan kemampuan layanan agar kebutuhan masyarakat bisa semakin banyak terakomodasi di RSUD Bantarangin,” kata Enggar.
Dengan kunjungan UGD yang kini mencapai 700–800 pasien per bulan dan BOR di atas 70 persen, penghargaan Trusted Hospital menjadi lebih dari sekadar seremoni.
Angka-angka tersebut menunjukkan satu hal yang tengah berubah di RSUD Bantarangin: arus pasien semakin besar, dan kapasitas pelayanan dituntut tumbuh mengikuti kepercayaan masyarakat.(Nang/Red).
