Teguh Wiyono Mulai Membaca Peta Wabup Ponorogo, Modal Gagasan dan Jaringan Jadi Andalan

Teguh Wiyono
Calon Wakil Bupati Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Bursa calon Wakil Bupati Ponorogo mulai memperlihatkan sejumlah nama. Di tengah komunikasi politik yang semakin intens, Teguh Wiyono, tokoh muda asal Bajang, Kecamatan Balong, memilih membangun langkahnya melalui gagasan dan jejaring lintas kelompok.
Ditemui Kamis (10/9/2026), Teguh mengakui komunikasi dengan Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita masih berjalan baik. Namun, ia menegaskan hubungan tersebut lebih banyak diarahkan pada pembahasan gagasan dan program pembangunan.
Sejumlah program nasional bahkan mulai ia komunikasikan untuk kemungkinan diterapkan di Ponorogo. Mulai revitalisasi sekolah dan puskesmas, beasiswa pendidikan dan kedokteran ke luar negeri, hingga pelatihan serta penempatan tenaga kerja.
Bagi Teguh, modal politik tidak cukup hanya dengan kedekatan dengan pengambil kebijakan.
“Yang penting bukan sekadar dekat, tetapi bagaimana komunikasi itu menghasilkan manfaat konkret untuk Ponorogo,” ujarnya.
Di sisi lain, komunikasi dengan sejumlah partai politik juga terus dilakukan. Teguh mengaku telah menyampaikan profil, visi-misi, komitmen serta sejumlah dokumen yang menjadi bagian dari proses penjajakan.
Ia menyadari keputusan akhir mengenai rekomendasi merupakan kewenangan partai. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya kepada elite politik, tetapi juga menyentuh berbagai kelompok masyarakat.
Kiai, tokoh NU, Muhammadiyah, budayawan, pelaku Reog hingga masyarakat bawah menjadi bagian dari ruang komunikasi yang dibangunnya.
Menariknya, Teguh juga membawa isu kesinambungan pemerintahan sebagai salah satu gagasan utama. Menurut dia, pergantian figur tidak seharusnya membuat program pembangunan yang sudah berjalan kembali ke titik nol.
“Program yang sudah baik harus dilanjutkan dan disempurnakan sampai 2029,” katanya.
Dengan usia yang relatif muda, Teguh tampaknya sedang mencoba menawarkan warna berbeda dalam bursa Wabup Ponorogo: bukan sekadar siapa yang memiliki kendaraan politik, tetapi siapa yang memiliki gagasan, jaringan, dan kemampuan menghubungkan Ponorogo dengan sumber daya di luar daerah.
Apakah modal tersebut cukup untuk membawanya masuk lebih jauh ke arena perebutan kursi pendamping Lisdyarita? Peta politik Ponorogo masih sangat terbuka.(Nang/Red).