MAN 2 Ponorogo Hadirkan Teknologi Ramah Disabilitas, dari Game Anti-Bullying hingga Digitalisasi Sejarah Lokal

Agung Drajatmono Kepala sekolah MAN 2 Ponorogo bersama Dwi Agus Prayitno, Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo ketika berada di stand innoteck expo 2026
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Teknologi bukan sekadar soal kecanggihan perangkat atau aplikasi digital. Di tangan siswa MAN 2 Ponorogo, teknologi justru menjadi jembatan untuk menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif sekaligus merawat ingatan tentang sejarah dan budaya lokal.
Gagasan itu terlihat dalam stan MAN 2 Ponorogo pada ajang Innotech Ponorogo Expo 2026 di Alun-Alun Ponorogo, 3–6 November. Sejumlah karya inovasi yang dipamerkan tidak hanya menawarkan pengalaman digital, tetapi juga membawa misi sosial yang cukup kuat: memberikan ruang bagi penyandang disabilitas dan mengenalkan kembali warisan sejarah daerah kepada generasi muda.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Klowana (Klono Sewandana Adventure Nusantara). Ini merupakan aplikasi permainan berbasis teknologi tiga dimensi (3D) yang dirancang untuk membantu siswa dengan disabilitas pendengaran di lingkungan MAN 2 Ponorogo.
Game tersebut bukan sekadar sarana hiburan. Di dalamnya terdapat pendekatan edukatif untuk membantu anak-anak tuna rungu memahami perlindungan diri, mengenali tindakan perundungan atau bullying, hingga mengetahui cara menyampaikan kebutuhan dan memperoleh pendampingan konseling.
Melalui pendekatan permainan interaktif, pesan-pesan yang selama ini kerap disampaikan secara konvensional diubah menjadi pengalaman belajar yang lebih mudah diakses. Harapannya, siswa dengan kebutuhan khusus memiliki ruang yang lebih luas untuk memahami hak-haknya serta berani menyuarakan persoalan yang mereka hadapi.
Pembimbing Riset Sosial Humaniora MAN 2 Ponorogo, Wiretno, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari komitmen madrasah dalam membangun lingkungan pendidikan inklusif. Menurut dia, setiap siswa memiliki kebutuhan belajar yang berbeda sehingga pendekatan pendidikan tidak bisa disamaratakan.
"Kami memang madrasah yang inklusif, jadi tidak membeda-bedakan segala kebutuhan belajar bagi semua murid kita," ujar Wiretno saat ditemui di lokasi pameran, Kamis (5/11/2026).
Selain Klowana, MAN 2 Ponorogo juga membawa inovasi berupa website interaktif dengan format tiga dimensi untuk mengenalkan situs sejarah lokal Sendang Beji, Sirah Kateng. Karya ini sekaligus diarahkan sebagai media edukasi pelestarian sumber daya air yang dapat diakses oleh teman-teman tuli di Ponorogo.
Pemanfaatan teknologi digital tersebut menjadi cara lain untuk mempertemukan sejarah, lingkungan, dan pendidikan. Situs yang memiliki nilai sejarah tidak hanya dikenalkan melalui cerita atau dokumentasi tertulis, tetapi dikemas dalam tampilan visual interaktif agar lebih menarik bagi generasi muda.
Di sinilah inovasi siswa MAN 2 Ponorogo menemukan relevansinya. Teknologi tidak berhenti pada kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, melainkan juga bagaimana sebuah karya bisa menjawab persoalan sosial dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kepala MAN 2 Ponorogo, Agung Drajatmono, mengatakan keikutsertaan dalam Innotech 2026 merupakan bagian dari upaya mendorong siswa agar terus mengembangkan kemampuan riset dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Menurut dia, capaian siswa MAN 2 Ponorogo tidak hanya terlihat dari inovasi teknologi yang dipamerkan. Sejumlah prestasi juga berhasil diraih dalam berbagai bidang kompetisi. Di antaranya Juara 1 Penulisan Sejarah Lokal tingkat Jawa Timur serta penghargaan dalam kompetisi tingkat perguruan tinggi dan pameran inovasi lainnya.
"Melalui keikutsertaan di Ponorogo Innotech 2026 ini, MAN 2 Ponorogo berharap dapat terus menginspirasi masyarakat luas melalui karya teknologi yang solutif, ramah disabilitas, serta sarat akan muatan edukasi dan budaya lokal," ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari Ketua DPRD Ponorogo, Dwi Agus Prayitno, yang menyempatkan diri mengunjungi stan MAN 2 Ponorogo. Ia mengaku salut dengan karya-karya yang ditampilkan, terutama upaya menggabungkan teknologi dengan pelestarian sejarah daerah.
Menurut Dwi Agus, penggunaan teknologi dalam mengenalkan situs sejarah dapat menjadi pendekatan efektif untuk menarik perhatian generasi muda. Sebab, pelestarian warisan lokal membutuhkan cara penyampaian yang relevan dengan perkembangan zaman.
Ia juga menilai riset yang berorientasi pada pendidikan inklusif memiliki arti penting. Pengembangan media pembelajaran yang ramah disabilitas dapat membuka kesempatan lebih luas bagi siswa berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan yang layak, sekaligus memperkuat upaya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah.
"Semoga karya dari siswa MAN 2 Ponorogo bisa memberi manfaat maksimal bagi kemajuan pendidikan dan pelestarian sejarah Ponorogo," pungkasnya.
Innotech Ponorogo Expo 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar ruang memamerkan hasil kreativitas pelajar. Karya MAN 2 Ponorogo menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Justru ketika teknologi mampu membuat anak-anak lebih terlindungi, penyandang disabilitas lebih terfasilitasi, dan sejarah lokal lebih dikenal, di situlah sebuah inovasi menemukan nilai sesungguhnya.(Nang/Red).

