Semarak HUT RI di Mlarak: Reog Hibur Warga, UMKM Kebanjiran Rezeki
![]() |
Penampilan Reog Ponorogo di halaman Kantor Kecamatan Mlarak |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Rangkaian peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Kecamatan Mlarak berlangsung meriah dan penuh warna. Setelah diawali dengan upacara bendera pada 17 Agustus, gelaran seni terus bergulir hingga akhir bulan.
Mulai dari pagelaran Gajah-Gajahan pada 26 Agustus, pertunjukan reog pada 27 Agustus, jaran thek pada 28 Agustus, hingga karnaval budaya dengan berkeliling desa di wilayah Kecamatan dan pentas dangdut penutup pada 31 Agustus 2025. Semua acara dipusatkan di halaman kantor Kecamatan Mlarak.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Ini memang keinginan warga desa di wilayah Mlarak, makanya semua ikut berpartisipasi,” ujar Camat Mlarak, Joko Setiawan, S.STP, M.Si, yang akrab disapa Jose.
Pantauan di lapangan pada Rabu sore (27/8), suasana di depan kantor kecamatan tampak ramai. Lalu lintas padat namun tetap lancar. Warga berbondong-bondong memarkir kendaraan untuk menyaksikan dari dekat pagelaran reog.
![]() |
Penampilan penari Bujangganong seni Reog Ponorogo di halaman Kantor Kecamatan Mlarak |
Tak hanya penonton, para pedagang UMKM pun ikut semringah. Lapak-lapak jajanan dan pernak-pernik yang berjejer di sekitar lokasi menjadi daya tarik tersendiri.
“Alhamdulillah, dagangan saya cepat habis. Banyak yang beli setelah nonton reog,” kata Siti, salah satu pedagang kaki lima yang menyiapkan makanan ringan.
![]() |
Para penari Jathil dalam seni reog Ponorogo di halaman kantor Kecamatan Mlarak |
Halaman kecamatan penuh sesak. Dentuman kendang dan gemuruh teriakan penabuh reog seolah menyalakan kembali semangat warga. Anak-anak kecil berlarian, remaja sibuk berswafoto, sementara orang tua menikmati pertunjukan sambil bercengkerama.
Reog, yang selama ini menjadi ikon kebudayaan Ponorogo, kembali menunjukkan daya pikatnya sebagai hiburan rakyat sekaligus pemersatu warga.
Bagi masyarakat Mlarak, perayaan ini lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi ruang bersama untuk merawat kebersamaan, melestarikan tradisi, sekaligus menghidupkan perekonomian warga. Dari seniman reog hingga pedagang kecil, semua merasakan manfaatnya.
“Semarak Agustusan ini bukan hanya milik pemerintah, tapi milik masyarakat. Semua ikut bergerak, dan itulah yang membuatnya meriah,” tutur Jose menutup.
Rangkaian kegiatan masih berlanjut hingga akhir Agustus. Karnaval budaya diikuti pemerintah desa di wilayah Mlarak, lembaga pendidikan, hingga organisasi keagamaan larut dalam semangat kebersamaan dan panggung dangdut diprediksi akan menjadi puncak perayaan sekaligus penutup bulan kemerdekaan yang berkesan bagi masyarakat Mlarak.
Penulis : Nanang