BREAKING NEWS

MBG Hari Sabtu Dibagikan Jumat, Siswa Ponorogo Keluhkan Isi Terlalu Minim

Miris, menu MBG di hari Sabtu diberikan kering...para siswa hanya bisa geleng-geleng kepala ...

PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Program Makan Bergizi (MBG) yang digadang-gadang sebagai prioritas nasional kembali menuai sorotan. Sejumlah siswa sekolah menengah atas di Ponorogo mengeluhkan menu MBG untuk hari Sabtu yang justru dibagikan pada Jumat dalam bentuk kering, karena Sabtu sekolah libur.

Alih-alih menambah semangat, isi paket yang diterima justru membuat sebagian siswa geleng kepala.

“Melihat menu MBG di hari Sabtu saya cukup ngiris. Hanya roti tipis, susu Tango berat 115 ml ditambah buah belimbing,” ujar seorang siswa SMA di kawasan kota Ponorogo.

Karena dinilai kurang menarik, tak sedikit siswa yang memilih tidak mengambil jatah tersebut. Namun ada pula yang tetap membawa pulang, bahkan mengambil milik teman yang enggan menerima.

“Masak dikasih kok nggak dibawa. Akhirnya saya bawa lima punya teman atas persetujuan mereka, eman-eman kalau nggak diambil,” imbuhnya.

Aduan itu kemudian disampaikan kepada Koordinator Wilayah SPPI Ponorogo, Shiella. Dalam responsnya, Shiella membenarkan bahwa menu MBG hari Sabtu memang dibagikan pada Jumat dan diberikan dalam bentuk kering.

“Memang MBG hari Sabtu diberikan di hari Jumat, Bapak. Dan diberikan kering. Untuk isinya, kami coba komunikasikan dengan kepala SPPG,” terang Shiella, Korwil SPPI Ponorogo.

SPPG sendiri merupakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang menjadi dapur penyedia dalam program MBG. Mekanisme pembagian lebih awal disebut sebagai penyesuaian karena hari libur sekolah.

Namun bagi wali murid dan siswa, persoalan bukan semata pada waktu distribusi. Mereka menilai isi paket perlu dievaluasi agar lebih mencerminkan semangat “bergizi” yang menjadi ruh program.

“Tidak bermaksud apa-apa, hanya berharap dapur atau SPPG lebih memperhatikan isi. Masyarakat bisa menilai sendiri berapa harga dan nilainya. Kalau ambil keuntungan jangan banyak-banyak. Biar program negara ini benar-benar terasa manfaatnya,” ujar salah satu wali murid.

Program MBG sejatinya dirancang untuk mendukung kecukupan gizi peserta didik dan mendorong kualitas generasi muda. Ketika distribusi dilakukan dalam bentuk kering, kualitas, komposisi, dan nilai gizinya menjadi perhatian utama.

Kritik yang muncul di Ponorogo ini bisa menjadi cermin. Bahwa program sebesar apa pun, tetap bergantung pada eksekusi di lapangan. Ketika niat baik negara bertemu pengelolaan yang kurang optimal, kepercayaan publik bisa tergerus perlahan.

Harapannya sederhana: menu yang lebih layak, komposisi yang lebih bernilai, dan pengawasan yang lebih ketat. Agar MBG bukan sekadar rutinitas pembagian paket, melainkan benar-benar menjadi tambahan gizi yang bermakna bagi siswa.

Penulis : Nanang 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar