Layanan Makin Lengkap, RSUD Bantarangin Genjot Kepercayaan Publik Meski IKM Fluktuatif
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Di tengah dinamika indeks kepuasan masyarakat (IKM) yang masih naik turun, RSUD Bantarangin justru tancap gas memperkuat layanan. Rumah sakit milik daerah di Kecamatan Kauman itu kini terus berbenah, memperluas fasilitas dan menghadirkan inovasi demi menjawab kebutuhan masyarakat.
Sejak diluncurkan pada November 2023, RSUD Bantarangin berkembang sebagai rumah sakit kelas D dengan kapasitas 51 tempat tidur. Didukung 10 dokter spesialis dan kerja sama dengan BPJS Kesehatan sejak 14 Juni 2024, akses layanan kesehatan kian terbuka luas bagi masyarakat Ponorogo.
![]() |
| RSUD Bantarangin Gelar Konsultasi Publik (foto Kominfo) |
Direktur RSUD Bantarangin, Enggar Tri Adji Sambodo, menegaskan bahwa peningkatan kualitas layanan menjadi prioritas utama. Salah satunya dengan penambahan ruang operasi (OK) berperalatan modern, serta pembukaan layanan khusus penanganan jantung.
Tak berhenti di situ, inovasi juga hadir pada layanan persalinan melalui metode ERACS (enhanced recovery after caesarean section). Metode ini memungkinkan pasien pulih lebih cepat, meminimalkan rasa nyeri, dan sudah bisa mobilisasi dalam 2 hingga 4 jam pasca operasi.
“Ini bagian dari upaya kami mendekatkan layanan kesehatan berkualitas kepada masyarakat,” ujar Enggar.
Upaya pembenahan tersebut mulai menunjukkan hasil. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan rawat jalan mencapai 10.337 pasien dan rawat inap 1.792 pasien. Tren ini berlanjut pada triwulan pertama 2026 dengan 2.890 pasien rawat jalan dan 517 rawat inap—indikasi meningkatnya kepercayaan publik.
Namun, Enggar tak menutup mata. Sejumlah indikator mutu pelayanan seperti BOR (tingkat keterisian tempat tidur), ALOS (lama rawat inap), hingga NDR dan GDR masih fluktuatif. Kondisi itu menjadi bahan evaluasi untuk menjaga konsistensi layanan ke depan.
Hal serupa tercermin dari IKM yang belum stabil. Sempat menyentuh angka 92,54 pada triwulan III 2025, turun ke 82,91 di triwulan IV, dan kembali naik menjadi 87,45 pada triwulan I 2026.
Bagi manajemen, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan alarm untuk terus berbenah. Melalui forum konsultasi publik (FKP), RSUD Bantarangin aktif menyerap masukan masyarakat sekaligus memperkuat konsep hospitel—rumah sakit dengan pelayanan nyaman layaknya hotel.
“Kami ingin pelayanan yang profesional, konsisten, dan benar-benar berorientasi pada kepuasan masyarakat,” tegas Enggar.
Dengan langkah pembenahan yang terus berjalan, RSUD Bantarangin tak hanya mengejar peningkatan angka kepuasan. Lebih jauh, rumah sakit ini tengah membangun kepercayaan publik sebagai fondasi layanan kesehatan yang berkelanjutan di Ponorogo.(Nang/Kominfo).

