BREAKING NEWS

Dakwah Digital: Menjaga Kemurnian Islam di Tengah Arus Modernisasi


Oleh : 
Nisa’ul 
Hafidhoh & Novi Tristanti 

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, dan menyebarkan informasi, termasuk dalam berdakwah. Jika dahulu dakwah identik dengan ceramah di masjid, majelis taklim, atau mimbar keagamaan, kini dakwah dapat dilakukan melalui media sosial, website, aplikasi, hingga teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). 

Era digital membuka ruang yang sangat luas bagi umat Islam untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan secara lebih cepat, efektif, dan menjangkau masyarakat lintas wilayah. Teknologi bukan sekadar simbol modernisasi, melainkan juga sarana dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Melalui ruang digital, nilai-nilai Islam dapat disebarkan lebih luas dan cepat. Konten edukasi, kajian daring, aplikasi pengingat ibadah, platform donasi hingga kampanye sosial merupakan contoh pemanfaatan teknologi untuk kemaslahatan umat. 

Namun, dunia digital juga dipenuhi tantangan seperti hoaks, ujaran kebencian, penipuan, dan konten yang merusak moral. Karena itu, dakwah digital tidak hanya untuk menyampaikan pesan agama, tetapi juga hadir untuk membangun kesadaran moral dan etika dalam penggunaan teknologi.

Selain dakwah amar ma’ruf nahi munkar, Islam juga mengenal konsep purifikasi atau tajrid, yaitu pemurnian ajaran Islam dari praktik yang tidak sesuai syariat. Purifikasi bertujuan menjaga kemurnian akidah dan ibadah dari bid’ah, khurafat, dan tahayul. 

Bid’ah dalam ritual adalah penambahan tata cara ibadah tanpa dasar yang jelas dalam Al-Qur’an dan sunnah, contohnya selamatan kematian empat puluh hari, atau seratus hari yang dianggap sebagai ritual wajib dan diiringi tahlil tertentu. 

Khurafat dalam akidah misalnya menganggap benda pusaka atau jimat memiliki kekuatan gaib, serta penghormatan berlebihan pada kuburan orang-orang suci. Adapun tahayul adalah kepercayaan irasional, seperti percaya bahwa burung tertentu membawa sial.

Namun, pemurnian ajaran Islam bukan berarti menolak perkembangan zaman. Islam juga mengajarkan tajdid atau pembaruan, yaitu menyesuaikan metode dakwah dan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat modern selama tidak bertentangan dengan syariat. 

Modernisasi dapat diwujudkan melalui reformasi pendidikan yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum, sehingga lahir generasi Muslim yang alim, kritis, dan mampu bersaing di era global.

Dakwah di era digital pada akhirnya memerlukan keseimbangan antara menjaga kemurnian ajaran dan menerima perkembangan teknologi. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, dakwah dapat menjadi sarana membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan. 

Manusia yang menentukan apakah teknologi membawa manfaat atau mudarat. Mari menjadikan teknologi sebagai media dakwah, sarana berbagi kebaikan, dan jalan menghadirkan Islam yang berkemajuan di era digital.***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar