BREAKING NEWS

Gus Muda di Mesir, Menjaga Nyala Reyog Ponorogo hingga Dunia Internasional


PONOROGO, SINYALPONOROGO
– Dari tanah para nabi, Mesir, langkah-langkah penuh semangat para pemuda perantau asal Jawa Timur menggema membawa satu pesan kuat: budaya tidak mengenal batas geografis. Mereka adalah para santri dan mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Reog Gamajatim Mesir, generasi muda yang menjadikan kesenian sebagai jembatan identitas di negeri rantau.

Kedatangan mereka ke Ponorogo disambut hangat oleh Wisnu HP, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Ponorogo. Bagi Wisnu, para mahasiswa ini bukan sekadar tamu, melainkan representasi generasi penerus yang menjaga ruh budaya tetap hidup, bahkan jauh dari tanah kelahirannya.

“Ini bukan hanya tentang kesenian, tapi tentang martabat dan identitas,” ujar Wisnu HP dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban.

Dari Kardus, Lahir Kebanggaan Dunia

Di tengah keterbatasan fasilitas di Mesir, para Gus muda ini menunjukkan dedikasi luar biasa. Dalam ajang penutupan Jawa Cup 2026, mereka tetap mementaskan Reyog Ponorogo meski tanpa properti asli.

Solusinya? Kreativitas.

Dadak merak dibuat dari kardus bekas, dirangkai dengan penuh ketelatenan, dihias seadanya, namun sarat makna. Kesederhanaan itu justru melahirkan kekuatan emosional yang luar biasa. Dokumentasi pertunjukan mereka pun viral di berbagai platform digital, terutama di Ponorogo.

Publik tersentuh. Haru bercampur bangga melihat anak-anak muda di negeri orang tetap setia memperjuangkan budaya daerahnya.

Jejak Panjang Reyog di Mesir

Perjalanan Reyog Ponorogo di Mesir bukanlah cerita baru. Sejak sekitar tahun 2007, kesenian ini mulai diperkenalkan secara sederhana oleh mahasiswa Indonesia yang rindu kampung halaman. Namun, geliatnya semakin berkembang pesat sejak 2017.

Kini, estafet perjuangan itu terus berlanjut. Dari generasi ke generasi, semangat menjaga budaya diwariskan tanpa putus.

Diplomasi Budaya Menuju Panggung Dunia

Momentum penting juga terjadi saat rombongan bersilaturahmi dengan Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita. Dalam pertemuan tersebut, para mahasiswa menyampaikan gagasan besar: membawa Reyog Ponorogo tampil dalam event internasional Saharat Ramadhaniyah di Mesir.

Ajang ini merupakan bagian dari diplomasi budaya global yang melibatkan berbagai negara, bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Mesir dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo.

Dukungan positif pun datang. Lisdyarita mengapresiasi penuh perjuangan para mahasiswa dan Gus muda yang telah mengharumkan nama Ponorogo di kancah internasional.

Harapan di Tangan Generasi Muda

Bagi Wisnu HP, pertemuan ini menjadi bukti bahwa masa depan Reyog Ponorogo berada di tangan yang tepat.

“Kita tidak sedang sekadar menjaga pertunjukan seni, tetapi menjaga ruh Ponorogo agar tetap hidup di hati generasi muda, di mana pun mereka berada,” tegasnya.

Dari Ponorogo hingga Mesir, dari pesantren hingga panggung dunia, Reyog kini bukan lagi sekadar warisan masa lalu. Ia telah menjelma menjadi identitas global—yang hidup, bergerak, dan terus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia.(Nang/Wisnu HP).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar