Dari Aktivis Kampus ke Bendahara PAC: Jalan Sunyi Tegar Saputra Mengabdi untuk Rakyat

Tegar Saputra
Pengurus PAC PDIP Babadan
PONOROGO, SINYALPONOROGO — Di tengah dinamika politik lokal yang kian terbuka bagi generasi muda, nama Tegar Saputra (24) mulai mencuri perhatian. Mahasiswa Universitas Merdeka Malang PDKU Ponorogo ini bukan sekadar aktivis kampus biasa. Ia adalah representasi generasi Z yang memilih jalan pengabdian melalui politik, sebuah pilihan yang tak selalu populer, tetapi ia jalani dengan keyakinan penuh.
Perjalanan Tegar tidak instan. Sejak 2022, ia mulai terlibat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Saat itu, ia masih sebatas simpatisan yang aktif membantu kegiatan sosial dan kepartaian. Namun, pengalaman sebagai saksi dalam Pemilu Legislatif 2024 menjadi titik balik yang mempertegas langkahnya.
“Di situ saya melihat langsung bagaimana suara rakyat harus benar-benar dijaga. Itu bukan sekadar angka, tapi amanah,” ujarnya Senin, 8/6/2026.
Langkahnya semakin mantap ketika pada 2025-2026 ia dipercaya menjadi Ketua BEM di kampusnya. Kepemimpinan di organisasi mahasiswa tersebut menjadi ruang belajar sekaligus latihan nyata dalam mengelola aspirasi dan dinamika publik.
![]() |
Tahun 2026 menjadi momentum penting. Tegar resmi menjadi bagian dari struktur kepengurusan PDI-P di tingkat akar rumput. Ia dipercaya sebagai Bendahara PAC Babadan, Ponorogo—posisi strategis yang menuntut integritas dan tanggung jawab tinggi.
Inspirasi terbesar Tegar tak lain adalah Sukarno. Baginya, Bung Karno bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan sumber nilai dan semangat.
“Pesan beliau, jangan sekali-kali munggungi/meninggalkan rakyat, itu sangat membekas. Saya merasa generasi muda harus hadir, bukan hanya mengkritik, tapi ikut terlibat,” katanya.
Tak hanya tokoh besar, Tegar juga memiliki figur mentor lokal yang membentuk karakternya. Sosok itu adalah Agung Prijanto, anggota DPRD dari PDI-P yang telah enam periode menjabat.
“Beliau itu rendah hati, humanis, dan selalu punya waktu untuk anak muda. Bagi saya, beliau bukan hanya guru politik, tapi juga tempat berdiskusi dan belajar kehidupan,” ungkap Tegar.
Dalam praktiknya, kiprah Tegar sebagai kader tidak berhenti pada struktur organisasi. Ia aktif melakukan pendampingan masyarakat, terutama dalam pengurusan Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi keluarga kurang mampu.
“Kita tidak bisa hanya bicara teori. Masyarakat butuh solusi konkret. Kalau ada yang kesulitan mengurus KIS, kita dampingi sampai selesai,” tegasnya.
Bagi Tegar, politik adalah alat perjuangan, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Ia percaya bahwa kehadiran kader muda mampu membawa energi baru dalam tubuh partai, sekaligus menjawab tantangan zaman.
Hal ini sejalan dengan kebijakan internal PDI-P yang mendorong keterlibatan generasi muda. Struktur kepengurusan di tingkat PAC kini diarahkan agar diisi 30 persen kader berusia di bawah 35 tahun, serta 20 persen perempuan.
“Ini momentum besar. Anak muda harus berani ambil peran, bukan hanya jadi penonton,” ujarnya optimistis.
Di tengah skeptisisme publik terhadap politik, langkah Tegar menjadi penanda bahwa masih ada idealisme yang tumbuh dari bawah. Ia mungkin belum menjadi tokoh besar hari ini, tetapi jejaknya menunjukkan satu hal: perubahan seringkali dimulai dari mereka yang berani melangkah lebih dulu.
“Kalau diberi kesempatan hidup kedua, saya akan 100 persen untuk rakyat dan tanah air,” ucapnya, menegaskan komitmen yang bukan sekadar retorika.
Di usia yang masih muda, Tegar Saputra telah memilih jalannya. Sebuah jalan sunyi, penuh tantangan, tetapi sarat makna: mengabdi untuk rakyat.
Penulis : Nanang
