Dugaan Bullying Berujung Patah Tangan di MI Al Kautsar Ponorogo, Orang Tua Soroti Minimnya Empati Sekolah
![]() |
| MI Al Kautsar Duri Sawoo Ponorogo |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Kasus dugaan perundungan (bullying) kembali mencuat di lingkungan sekolah dasar. Seorang siswa kelas 5 berinisial W, yang bersekolah di MI Al Kautsar Duri Sawo Ponorogo, diduga menjadi korban kekerasan oleh teman sebayanya hingga mengalami patah tulang tangan sebelah kiri.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 11 Juni 2026, saat jam istirahat berlangsung. Menurut penuturan wali korban, anaknya dipaksa oleh sejumlah temannya untuk memainkan permainan yang tidak wajar, yakni berpura-pura menjadi “sapi-sapian”.
“Leher anak saya diikat pakai tali, lalu dinaiki temannya. Dia merasa sakit dan keberatan, lalu minta dilepas,” ujar wali korban kepada awak media, Selasa (23/6/2026).
Setelah dilepaskan, korban berusaha menjauh dari lokasi. Namun, situasi justru memburuk. Ia dikejar oleh beberapa siswa lain. Salah satu di antaranya diduga menjegal kaki korban hingga terjatuh keras. Akibatnya, korban mengalami patah pada bagian tulang tangan kiri dan harus segera dilarikan ke rumah sakit oleh pihak sekolah.
Peristiwa tersebut bukan hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis. Wali korban mengaku sangat kecewa terhadap kejadian yang menimpa anaknya.
“Saya sangat menyesalkan. Anak saya sampai cidera dan trauma. Ini bukan kejadian sepele,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap respons pihak sekolah maupun orang tua dari siswa yang diduga sebagai pelaku.
“Selama proses pengobatan sampai kontrol, belum ada perhatian serius. Bahkan dari wali terduga pelaku juga tidak ada itikad baik atau simpati,” imbuhnya.
Menurutnya, pihak sekolah sempat menawarkan bantuan berupa tali asih dan pendampingan psikologis. Namun, tawaran tersebut dinilai hanya sebatas formalitas tanpa langkah nyata dalam penyelesaian masalah.
“Kalau hanya lips service, buat apa? Yang kami butuhkan itu kepastian dan tanggung jawab,” katanya.
Saat ini, korban memang sudah mulai membaik secara fisik. Namun, rasa takut untuk kembali ke sekolah masih membayangi. Wali korban pun hanya meminta satu hal mendasar dari pihak sekolah.
“Saya hanya minta surat pernyataan resmi bahwa anak saya aman dan tidak akan mengalami bullying lagi di sekolah,” ujarnya.
Ia juga mengungkap fakta lain yang memperkuat dugaan adanya perundungan yang terjadi berulang. Sebelum insiden tersebut, anaknya disebut pernah dipaksa makan nasi basi oleh teman yang sama.
“Ini bukan kejadian pertama. Sudah ada tanda-tanda sebelumnya,” tambahnya.
Pihak Sekolah: Sudah Bertindak dan Beri Sanksi
Menanggapi hal itu, Kepala MI Al Kautsar Duri Sawoo, Juni Siswo Harijanto—yang akrab disapa Antok—menyatakan bahwa pihak sekolah telah menjalankan prosedur penanganan sesuai kemampuan mereka.
“Begitu kejadian, kami langsung membawa korban ke rumah sakit,” jelasnya.
![]() |
| Juni Siswo Harijanto alias Antok Kepala MI Al Kautsar Duri Sawoo Ponorogo |
Ia mengakui bahwa komunikasi dengan pihak keluarga korban selama ini lebih banyak dilakukan melalui wali kelas. Sekolah juga mengklaim telah berupaya mempertemukan kedua belah pihak, meski tidak mencapai kesepakatan.
“Kami sudah memanggil semua pihak, termasuk wali murid dari terduga pelaku. Mereka mengakui kesalahan,” katanya.
Sebagai bentuk sanksi, sekolah memberikan hukuman administratif kepada siswa yang terlibat, di antaranya membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan serta menulis pengakuan tersebut sebanyak 50 kali.
Selain itu, pihak sekolah juga mengaku telah melakukan langkah preventif, seperti sosialisasi anti-bullying saat apel pagi serta pemasangan kamera pengawas (CCTV) di lingkungan sekolah.
“Kami punya lebih dari 800 siswa dan sekitar 50 guru. Kami terus berupaya meningkatkan pengawasan,” ujarnya.
Namun, ia juga mengakui adanya kelengahan pada saat kejadian berlangsung.
“Waktu itu jam istirahat dan guru sedang rapat, jadi tidak ada pengawasan langsung. Ini menjadi evaluasi bagi kami,” ungkapnya.
Ke depan, pihak sekolah berjanji akan meningkatkan intensitas komunikasi dengan wali murid serta menambah titik pengawasan CCTV di area sekolah.
“Kami berkomitmen kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi,” pungkasnya.
Minimnya pengawasan saat jam istirahat, lemahnya deteksi dini terhadap perilaku agresif siswa, serta kurangnya empati dalam penanganan pasca-kejadian menjadi titik kritis yang perlu dibenahi.
Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh. Ketika rasa aman itu hilang, maka kepercayaan orang tua pun ikut runtuh.(Nang/Red).

