SPMB 2026: Sejumlah SMP Negeri di Ponorogo Kekurangan Murid, Pendaftaran Offline Jadi Solusi
![]() |
| Gambar hanya ilustrasi saja |
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 di Kabupaten Ponorogo menyisakan persoalan klasik: sejumlah sekolah negeri di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih kekurangan peserta didik. Salah satu yang paling mencolok adalah SMP Negeri 1 Sawoo yang hingga akhir tahapan online masih kekurangan sebanyak 83 siswa.
Kondisi ini mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo mengambil langkah alternatif dengan membuka jalur pendaftaran secara offline. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaring calon peserta didik yang belum terakomodasi dalam sistem daring.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo sekaligus Ketua SPMB, Farida Nuraini, menjelaskan bahwa jalur offline menjadi solusi strategis untuk memastikan tidak ada anak usia sekolah yang tertinggal dari akses pendidikan.
“Bagi SMP Negeri yang belum memenuhi kuota, akan dibuka pendaftaran secara offline, agar calon peserta didik yang belum terakomodir dalam sistem online tetap memiliki kesempatan untuk bersekolah,” ujarnya, Senin (29/6).
Menurut Farida, tidak semua calon siswa memiliki akses atau kesiapan mengikuti proses pendaftaran berbasis online. Karena itu, pembukaan jalur offline juga menjadi bentuk pemerataan layanan pendidikan.
“Pendaftaran offline ini ditujukan untuk menjangkau calon peserta didik yang belum mengikuti pendaftaran online maupun yang belum memperoleh sekolah pada tahapan sebelumnya,” tambahnya.
Ia berharap, langkah ini mampu mengisi kekosongan kuota di berbagai sekolah, sekaligus menjamin kelangsungan proses belajar mengajar pada tahun ajaran baru.
“Kami berharap seluruh kuota dapat terpenuhi sehingga semua anak usia sekolah tetap mendapatkan layanan pendidikan yang layak,” tegasnya.
![]() |
| Pendaftaran offline di SMPN 1 Sawoo mulai dilakukan.. |
Di tingkat satuan pendidikan, kebijakan tersebut langsung direspons cepat. Kepala SMP Negeri 1 Sawoo, Susanto, memastikan bahwa pihaknya telah membuka layanan pendaftaran offline bagi masyarakat.
“Hari ini pendaftaran offline sudah bisa dilakukan. Kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi calon peserta didik yang belum mendapatkan sekolah,” katanya, Selasa (30/6).
Ia menjelaskan, sejumlah persyaratan tetap diberlakukan sesuai ketentuan, di antaranya usia maksimal 15 tahun per 1 Juli 2026, memiliki ijazah atau Surat Keterangan Lulus (SKL) dari SD/sederajat, serta dokumen kependudukan seperti Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran.
Menurut Susanto, kekurangan jumlah siswa bukan hanya menjadi persoalan administratif, tetapi juga berpengaruh pada dinamika pembelajaran di sekolah.
“Kami berharap hingga awal tahun ajaran baru nanti, kekurangan murid ini bisa terpenuhi sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan optimal,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi di SMP Negeri 2 Pulung. Kepala sekolah setempat, Heri Sugianto, mengungkapkan bahwa sekolahnya masih kekurangan 48 siswa dari total kuota yang tersedia.
“SMPN 2 Pulung kekurangan 48 murid. Kami juga sudah membuka pendaftaran offline dan berharap kuota tersebut bisa segera terpenuhi,” ungkapnya.
Fenomena kekurangan siswa di sejumlah SMP negeri ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan SPMB tahun 2026. Selain faktor demografis, perubahan pola pilihan sekolah serta distribusi peserta didik yang tidak merata turut memengaruhi kondisi tersebut.
Dengan dibukanya jalur offline, pemerintah daerah berharap tidak hanya mampu menutup kekurangan kuota, tetapi juga memastikan prinsip keadilan dan pemerataan pendidikan tetap terjaga di Kabupaten Ponorogo.(Nang/Red).

