Tinjau Tanggul Bronjong Kepatihan-Surodikraman, Ali Mufthi Siapkan Penelusuran Sumber Banjir Ponorogo

Dr. H. Ali Mufthi anggota DPR RI fraksi Golkar ketika cangkrukan di gubuk persawahan Surodikraman Ponorogo
PONOROGO, SINYALPONOROGO – Tanggul bronjong sepanjang 130 meter di Kelurahan Kepatihan dan Surodikraman, Kabupaten Ponorogo, telah rampung dibangun. Namun, bagi warga yang setiap musim hujan dihantui banjir dan erosi bantaran sungai, pembangunan tersebut belum menjadi akhir dari persoalan.
Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Dr. H. Ali Mufthi, M.Si., meninjau langsung proyek tersebut pada Senin (26/10/2026). Dalam kunjungan itu, ia juga berdialog dengan kelompok tani dari kedua kelurahan untuk menyerap aspirasi terkait penanganan banjir.
![]() |
| Ali Mufthi ketika meninjau lokasi proyek Bronjong di kelurahan Surodikraman dan Kepatihan Ponorogo |
Hadir mendampingi, anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Hj. Atika Banowati, S.H., serta Husnul Arifandi, S.STP., Lurah Kepatihan sekaligus Plt. Lurah Surodikraman.
Suasana dialog berlangsung santai di sebuah gubuk di area persawahan Surodikraman. Di tempat itu, para petani menyampaikan persoalan yang mereka hadapi ketika hujan deras mengguyur wilayah Ponorogo, mulai dari ancaman banjir hingga gerusan arus sungai yang mengikis bantaran dan mengancam area persawahan.
Ali Mufthi mengatakan, pembangunan tanggul bronjong tersebut berawal dari aspirasi masyarakat yang disampaikan kepadanya. Ia mengaku pernah berbincang dengan warga di sekitar sungai, kemudian meneruskan aspirasi itu kepada pihak balai terkait.
“Ya kita ini kan panitia saja, panitia penyambung lidah masyarakat,” kata Ali Mufthi saat menjelaskan perannya dalam memperjuangkan aspirasi pembangunan tersebut.
Menurutnya, proyek itu menggunakan anggaran operasional (OP) pada balai terkait. Ia menegaskan, peran yang dijalankannya adalah menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan pihak yang memiliki kewenangan dalam pelaksanaan program.
Meski tanggul bronjong sepanjang 130 meter telah selesai, Ali menilai penanganan banjir Ponorogo membutuhkan kajian yang lebih menyeluruh. Ia menyebut, para petani mengusulkan pembangunan parapet atau tanggul permanen dengan ketinggian sekitar satu hingga dua meter sebagai salah satu alternatif untuk menahan luapan air.
Namun, usulan tersebut perlu dikaji secara teknokratis oleh tenaga ahli. Sebab, penyelesaian banjir tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis bangunan atau penanganan di satu titik sungai.
“Jadi kita butuh analisa teknokratis yang dilakukan oleh para ahlinya,” ujarnya.
Ali berharap pemerintah daerah dapat berkomunikasi dengan pihak teknis untuk merancang kajian yang dapat menjelaskan efektivitas pembangunan parapet, lokasi prioritas, serta dampaknya terhadap penanganan banjir di wilayah perkotaan Ponorogo.
Hasil kajian tersebut nantinya dapat menjadi dasar untuk memperjuangkan program penanganan banjir melalui jalur kebijakan dan politik anggaran.
Ia juga mengungkapkan rencana mengundang pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo pada Desember mendatang untuk menelusuri sumber-sumber banjir di Ponorogo, khususnya yang berkaitan dengan sungai-sungai dalam wilayah daerah irigasi Bengawan Solo.
Penelusuran itu diharapkan dapat membantu mengidentifikasi persoalan dari hulu hingga hilir, sehingga penanganan banjir tidak berhenti pada pembangunan tanggul di lokasi tertentu.
Sementara itu, Husnul Arifandi menyampaikan bahwa warga Kepatihan dan Surodikraman membutuhkan penanganan berkelanjutan. Kedua wilayah tersebut hampir setiap tahun menghadapi ancaman banjir ketika musim penghujan tiba.
Menurutnya, penguatan bantaran sungai melalui pembangunan bronjong menjadi salah satu kebutuhan mendesak untuk menahan erosi akibat derasnya arus air, sekaligus melindungi kawasan persawahan dan tanah milik warga.
Ia berharap pembangunan tanggul dapat dilanjutkan ke titik-titik rawan lainnya hingga perlindungan bantaran sungai semakin merata.
Rampungnya proyek bronjong sepanjang 130 meter memang menjadi langkah awal yang disambut positif. Namun, pekerjaan besar penanganan banjir Ponorogo masih membutuhkan pemetaan sumber masalah, kajian teknis, koordinasi lintas instansi, dan perencanaan yang berkelanjutan.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai, harapannya sederhana: ketika hujan deras datang, mereka tidak lagi dibayangi kecemasan akan banjir dan tanah yang terus tergerus arus.
"Terima kasih pak Ali, warga Surodikraman dan Kepatihan sangat Marem. Harapannya musim hujan akan datang tidak lagi banjir."ujar warga kedua Kelurahan.(Nang/Red).
